GROBOGAN — Derasnya arus jebolan tanggul Sungai Tuntang di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Senin (16/2/2026), masih membekas di ingatan Yogi Prasetyo.
Petugas PMI Grobogan itu menjadi salah satu yang pertama menerima kabar bahwa sebuah bus AKDP PO Usaha Jaya jurusan Purwodadi–Semarang mogok di tengah arus.
Di dalamnya, ada 21 karyawan pabrik Godong yang hendak pulang kerja.“Saat itu menurut keterangan korban, yang nekat nerobos ada 16 orang.
Kami saat itu belum tahu kalau di sana masih ada lima penumpang dan bus yang terjebak di tengah jebolan tanggul,” kata Yogi saat ditemui di sela tugasnya.
Namun arus terlalu deras. Dari 16 penumpang yang nekat, ternyata lima orang kembali ke bus karena takut.
Sebelas lainnya tetap menyeberang dengan berpegangan satu sama lain.
Sesampainya di dekat kawasan Istana Gubug, mereka bertemu petugas PMI dan BPBD yang bersiaga.
“Kondisi mereka sudah sangat capek. Karena terkuras tenaganya. Dua orang langsung pingsan begitu sampai,” ujarnya.
Satu korban ditangani di lokasi dengan terapi oksigen. Satu lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Getas Pendawa Gubug karena mengalami trauma dan kelelahan berat.
Satlantas Polres Grobogan turut membantu membawa satu korban ke rumah sakit.
“Yang pingsan juga cerita hampir terseret arus. Itu yang bikin syok,” tambahnya.
Sekitar pukul 18.00, petugas dari BPBD Grobogan menerima telepon dari Kepala Pelaksana BPBD Grobogan. Informasinya, masih ada bus mogok tepat di tengah lokasi jebolan.
Petugas mengupayakan penderekan bus yang masih berada di tengah arus.
Saat itu tim fokus mencari kendaraan besar untuk menarik bus, karena belum mendapat informasi bahwa masih ada penumpang di dalamnya.
Hampir satu jam berselang, arus belum juga surut dan proses derek belum memungkinkan dilakukan.
Menjelang pukul 19.00 WIB, petugas menerima telepon dari Sekretaris Daerah Grobogan yang menginstruksikan agar evakuasi diprioritaskan pada penumpang yang masih berada di dalam bus.
“Dari situ kita baru tahu kalau di dalamnya masih ada penumpang. Kami putuskan, yang penting orangnya dulu. Bus bisa menyusul,” katanya.
Sekitar pukul 20.00, tim bergerak. Pelampung dan tali pengaman dibawa. Dengan penerangan seadanya dari lampu kendaraan dan senter, mereka menembus arus menuju bus.
“Kami bentangkan tali supaya penumpang bisa pegang. Petugas berdiri melawan arus, jaga keseimbangan,” jelas Yogi.
Satu per satu penumpang diseberangkan. Arus masih kuat, namun koordinasi dan ketenangan menjadi kunci. Seluruhnya berhasil dievakuasi dengan selamat.
Setelah itu, para karyawan diistirahatkan, diberi minum, lalu diantar ke Terminal Gubug.
Malam itu sudah tak ada bus beroperasi. Petugas memberi kesempatan mereka menghubungi keluarga untuk menjemput.
Bagi Yogi, peristiwa itu bukan sekadar operasi penyelamatan. “Yang paling penting semua selamat. Itu saja,” ucapnya singkat.
Di tengah derasnya arus Sungai Tuntang dan gelapnya malam di Godong, keputusan cepat dan komunikasi berjenjang menjadi pembeda antara risiko dan keselamatan. (int)
Editor : Ali Mustofa