GROBOGAN- Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti prosesi Pemasangan Kap Profesi dan Ucap Janji Mahasiswa Program Studi Keperawatan dan Kebidanan Program Diploma III Universitas An Nur (UNAN) Purwodadi.
Sebanyak 36 mahasiswa angkatan 2025/2026—terdiri dari 31 mahasiswa keperawatan dan 5 mahasiswa kebidanan resmi memasuki fase praktik klinik.
Prosesi diawali dengan pemasangan kap sebagai simbol kesiapan moral dan profesional. Satu per satu mahasiswa maju, menerima kap profesi, lalu mengucapkan janji dengan suara mantap—berkomitmen menjalankan tugas dengan etika, menjaga privasi pasien, serta mengutamakan kepentingan klien di atas kepentingan pribadi.
Rektor UNAN Purwodadi, Dr. Rosdiana, SKM., M.Kes., dalam sambutannya menegaskan bahwa Capping Day bukan sekadar seremoni akademik. Ia menyebut momentum tersebut sebagai tonggak penting dalam perjalanan mahasiswa menjadi tenaga kesehatan.
“Kap yang terpasang hari ini bukan hanya atribut. Ini adalah amanah dan pengingat bahwa profesi perawat dan bidan adalah profesi kemanusiaan. Di tangan kalian ada harapan, ada keselamatan, bahkan ada kehidupan,” tegasnya.
Menurutnya, mahasiswa yang berdiri di hadapan orang tua dan dosen itu telah melewati proses panjang.
Sejak awal, mereka diseleksi melalui tes tulis, tes kesehatan, dan wawancara. Selama satu tahun, mereka ditempa melalui pembelajaran ilmu pengetahuan umum, praktik laboratorium, serta penguatan dasar-dasar klinis di semester pertama.
“Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah. Keterampilan tanpa empati akan kehilangan makna. Karena itu, kami tidak hanya menyiapkan kalian menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga pribadi yang berkarakter, beretika, dan mampu menjaga martabat pasien,” ujar Dr. Rosdiana.
Ia juga mengingatkan bahwa saat memasuki lahan praktik, setiap sikap dan tindakan mahasiswa mencerminkan almamater.
“Jaga nama baik orang tua, jaga nama baik kampus. Tunjukkan bahwa mahasiswa UNAN mampu bekerja sesuai standar operasional, menjunjung etika profesi, dan menjaga kerahasiaan pasien dengan penuh tanggung jawab,” pesannya.
Rektor menambahkan, pelayanan kesehatan tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga sentuhan kemanusiaan. Senyum, kesabaran, dan ketulusan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kompetensi teknis.
"Setiap langkah yang diniatkan sebagai ibadah akan menjadi kebaikan yang kembali kepada diri kalian sendiri,” imbuhnya.
Kabid SDK Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Yeni Maryanti, turut menyampaikan dukungan penuh proses pendidikan bagi tenaga kesehatan, termasuk penyediaan lahan praktik bagi mahasiswa.
“Kami berharap mahasiswa mampu memanfaatkan kesempatan praktik ini untuk mengasah keterampilan sekaligus memperkuat soft skill. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki empati dan integritas,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjunjung etika dan standar operasional saat praktik di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurutnya, kehadiran mahasiswa praktik bukan hanya bagian dari proses belajar, tetapi juga kontribusi dalam mendukung pelayanan kesehatan di daerah. (int)
Editor : Mahendra Aditya