Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pengairan Pertanian di Ngaringan Jadi Prioritas Pembangunan

Sirojul Munir • Jumat, 13 Februari 2026 | 13:42 WIB
BERIKAN PEMAPARAN – Camat Ngaringan Widodo Joko Nugroho memberikan sambutan dalam Musrembang, Kecamatan Ngaringan dengan menjelaskan pengairan di Kecamatan Ngaringan.
BERIKAN PEMAPARAN – Camat Ngaringan Widodo Joko Nugroho memberikan sambutan dalam Musrembang, Kecamatan Ngaringan dengan menjelaskan pengairan di Kecamatan Ngaringan.

GROBOGAN – Penguatan ekonomi daerah berbasis pertanian menjadi sorotan utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 Kecamatan Ngaringan.

Daerah dengan mata pencaharian pertanian tersebut menekanan infrastruktur irigasi sebagai tulang punggung ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Grobogan.

Selain itu, forum perencanaan tahunan itu mengusung tema besar penguatan perekonomian daerah yang inklusif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pelayanan publik yang modern.

Camat Ngaringan Widodo Joko Nugroho menegaskan, pihaknya mendorong pendekatan inovatif melalui pemetaan integrasi saluran pengairan persawahan.

Langkah ini diproyeksikan mampu menjawab tantangan ketersediaan air di musim kemarau sekaligus menjaga stabilitas produksi pertanian sepanjang tahun.

Menurutnya, konsep yang diusung bukan sekadar perbaikan titik-titik irigasi, melainkan pendekatan sistemik dengan menghubungkan seluruh jaringan saluran, mulai dari saluran primer, sekunder, hingga tersier.

”Selain integrasi jaringan, penguatan sumber air alternatif juga kita siapkan melalui pompanisasi air bawah tanah dan pembangunan embung sebagai sarana penyimpanan air. Sistem ini dirancang untuk memaksimalkan distribusi air pertanian secara merata di seluruh wilayah persawahan,” ujarnya.

Widodo menjelaskan, penataan infrastruktur pengairan mencakup pemetaan sumber air irigasi, perencanaan kebutuhan aliran, hingga pembangunan cadangan air berupa embung.

Alur integrasi dimulai dari sumber air utama seperti sungai atau reservoir, kemudian dialirkan melalui kanal distribusi di koridor utama, sebelum dipecah ke saluran sekunder menuju areal persawahan.

Sisa aliran air juga akan dimanfaatkan melalui pompa bawah tanah sebagai cadangan pasokan.

“Sistem terintegrasi ini memastikan kontinuitas pasokan air dari hulu ke hilir dengan dukungan sumber alternatif dan penyimpanan strategis,” tandasnya.

Untuk merealisasikan program tersebut, dibutuhkan pembangunan infrastruktur yang difokuskan pada rehabilitasi jaringan eksisting sekaligus penambahan jaringan baru di wilayah rawan kekeringan.

Rencana pembangunan meliputi 72 titik saluran air dengan total panjang 57.139 meter.

Di area kritis, disiapkan pemenuhan 18 unit pompa air beserta pipanisasi sepanjang 5.468 meter.

Selain itu, juga direncanakan pembangunan 218 unit sumur cincin, 24 unit sumur dalam, 39 unit sumur dangkal, serta rehabilitasi 16 unit sumur lama.

Tak berhenti di situ, pemerintah kecamatan juga mengusulkan pembangunan 30 unit penampungan air sementara, 18 embung berkapasitas 500–2.000 meter persegi, serta pipanisasi empat dimensi sepanjang 16.383 meter.

Seluruh paket program tersebut disusun untuk membentuk sistem pengairan yang lebih tangguh, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu melayani kebutuhan petani secara berkelanjutan.

Widodo meyakini, bila program berjalan sesuai rencana, dampaknya akan signifikan bagi sektor pertanian.

Mulai dari efisiensi penggunaan air, peningkatan produktivitas, hingga perbaikan kualitas tanah.

“Dengan distribusi yang terukur dan terkendali, pemborosan air bisa ditekan hingga 35 persen. Pasokan air yang cukup dan stabil juga berpotensi meningkatkan hasil panen sampai 25 persen,” katanya optimistis. (mun)

 

Editor : Ali Mustofa
#irigasi #musrembang #pertanian #pembangunan