Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bertahan Lintas Generasi, Kue Keranjang Toko Idjo Wirosari Grobogan Tetap Eksis di Tengah Kenaikan Harga

Intan Maylani Sabrina • Sabtu, 7 Februari 2026 | 17:27 WIB
KUE KERANJANG: Toko Idjo Wirosari, Grobogan, saat memproduksi kue keranjang.
KUE KERANJANG: Toko Idjo Wirosari, Grobogan, saat memproduksi kue keranjang.

GROBOGAN – Di tengah gempuran produk modern dan naiknya harga bahan baku, usaha kue keranjang legendaris “Toko Idjo” di Wirosari tetap bertahan.

Usaha ini kini dijaga oleh Kristina Rahayu (66) atau Oei Gwat Tin, generasi ketiga pembuat kue keranjang keluarga yang telah berdiri sejak 1962.

Setiap menjelang Imlek, Kristin tetap setia menyalakan dapur produksi di rumahnya di Jalan Kusuma Bangsa No 15, Kecamatan Wirosari. Tradisi keluarga yang diwariskan lintas generasi itu terus hidup, meski tantangan usaha kian berat.

“Tahun ini produksi kami mulai sejak 22 Januari 2026, sampai H-3 atau H-5 jelang Imlek,” ujar Kristin.

Dalam sehari, ia mengadon sekitar 200 kilogram kue keranjang. Tahun ini, target produksinya mencapai dua ton beras ketan, sama seperti tahun lalu.

“Dulu produksinya jauh lebih besar. Lima tahun lalu bisa sampai empat ton, bahkan pernah delapan ton. Sekarang memang menurun, tapi kami tetap bertahan,” ungkapnya.

Di tengah kenaikan harga bahan baku dan biaya transportasi, loyalitas pelanggan menjadi kekuatan utama Toko Idjo.

Meski harga naik dari Rp 50 ribu menjadi Rp 52 ribu per kilogram, permintaan tetap tinggi. Konsumen datang dari berbagai daerah seperti Grobogan, Semarang, Kudus, Solo, Blora, Temanggung, Jepara, hingga kota-kota lain di Jawa Tengah.

Toko Idjo masih mempertahankan enam varian rasa: cokelat, vanila, frambozen, pandan, gula aren, dan durian. Seluruhnya menggunakan bahan alami tanpa pengawet.

GENERASI KETIGA: Oei Gwat Tin atau Kristina saat memproduksi kue keranjang.
GENERASI KETIGA: Oei Gwat Tin atau Kristina saat memproduksi kue keranjang.

“Kue keranjang ini bisa awet sampai satu tahun kalau disimpan di kulkas. Kalau di suhu biasa, sekitar satu bulan,” jelasnya.

Yang membuatnya khas, varian pandan dibuat dari daun suji alami yang diolah sendiri. Daun suji dan pandan itu bahkan ditanam di pekarangan rumah.

“Kami tanam sendiri. Kalau sudah dipakai untuk produksi, dibabat, lalu ditanam ulang. Setahun kemudian bisa dipanen lagi,” tuturnya.

Kue keranjang “Toko Idjo” tak hanya diminati warga Tionghoa. Warga dari berbagai latar belakang juga datang langsung ke rumah produksi untuk membeli, bahkan mencicipi kue yang masih hangat.

Disajikan dengan kelapa parut atau digoreng telur, rasanya menjadi sajian khas yang selalu dirindukan saat Imlek.

Namun, di balik eksistensi generasi ketiga ini, tersimpan kekhawatiran akan keberlanjutan usaha keluarga tersebut.

“Anak-anak tidak ada yang mau meneruskan. Mereka sibuk kerja. Saudara-saudara juga sudah punya usaha masing-masing. Sayang sekali kalau nanti berhenti,” keluh Kristin.

Meski kini lebih fokus pada usaha lain, Kristin tetap memproduksi kue keranjang setahun sekali demi menjaga tradisi keluarga dan memenuhi permintaan pelanggan setia.

“Masih banyak yang mencari. Ada yang bilang, tiap Imlek harus kue keranjang Toko Idjo. Mungkin karena sudah jadi kebiasaan turun-temurun,” pungkasnya. (Int)

Editor : Mahendra Aditya
#Kue keranjang #grobogan