Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tekan Risiko Banjir, 1.500 Pohon Ditanam dan Tanggul 3 Km Dibangun di Bantaran Sungai Serang Grobogan

Sirojul Munir • Kamis, 5 Februari 2026 | 16:21 WIB
TANAM POHON – Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo melakukan penanaman pohon di tanggul Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi.
TANAM POHON – Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo melakukan penanaman pohon di tanggul Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi.

GROBOGAN – Sebanyak 1.500 bibit pohon ditanam di bantaran Sungai Serang sekaligus dilakukan pembangunan tanggul sepanjang tiga kilometer di Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (4/2/2026). Aksi ini dilakukan sebagai upaya menekan risiko banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.

Sepanjang 2025 lalu, Desa Cingkrong tercatat menjadi salah satu titik terparah terdampak banjir. Kondisi itu mendorong Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Grobogan untuk menginisiasi gerakan penghijauan yang terwujud lewat kerja sama berbagai perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga komunitas masyarakat.

Kegiatan penanaman pohon tersebut dihadiri Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo, Ketua DPRD Grobogan Lusia Indah Artani, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan Perhutani, serta PWI Grobogan.

Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo mengapresiasi langkah penghijauan yang dilakukan di sepanjang tanggul sungai di Desa Cingkrong. Menurutnya, penanaman pohon dan pembangunan tanggul menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan banjir.

“Penanganan tanggul sepanjang tiga kilometer dari BBWS ini dilaksanakan untuk mengatasi banjir. Penanaman pohon juga harus dirawat agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” kata Sugeng.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat menjadi kunci agar upaya pengendalian banjir dapat berjalan berkelanjutan di Kabupaten Grobogan.

Ketua BEM Universitas Annur Purwodadi, Muhammad Hilal, mengungkapkan bahwa aksi tersebut merupakan wujud kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga harus turun langsung melihat dan membantu menyelesaikan persoalan warga.

“Ini bagian dari aksi kami untuk masyarakat. Kami ingin memberikan aksi nyata yang langsung dirasakan,” ujarnya.

Hilal menjelaskan, kondisi geografis Purwodadi menyerupai mangkuk sehingga sangat rentan terhadap banjir. Air mengalir dari pegunungan di utara dan selatan, lalu tertampung di wilayah cekungan.

“Cekungan ini diapit hulu Sungai Lusi di timur dan Bendung Klambu di barat. Kalau hujan deras, air akan mengalir dan terkumpul di sini,” paparnya.

Ia menambahkan, pembukaan kegiatan pengabdian masyarakat berupa tanam pohon ini merupakan langkah kecil untuk ikut berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana (PRB) banjir yang kerap terjadi di Grobogan.

Sementara itu, Kepala Desa Cingkrong, Jasmi, menyambut baik penanaman 1.500 pohon tersebut. Ia menyebut, kegiatan ini menjadi harapan baru bagi para petani di desanya yang sering merugi akibat gagal panen saat banjir melanda.

“Ini menjadi gerakan bersama. Kami juga sudah berupaya membuat tanggul di pinggir Kali Serang agar sawah dan warga tidak kebanjiran. Kalau banjir terus terjadi, ketahanan pangan kami terancam,” ujarnya.

Salah satu anggota Aliansi Masyarakat Grobogan, Wahyu Dwi Pranata, mengungkapkan bahwa pihaknya kerap mendongeng kepada anak-anak di Desa Cingkrong tentang “Kali Serang yang sedih” karena sering dikotori dan dieksploitasi manusia.

“Kami sudah keliling sekolah, bercerita ke anak-anak lewat dongeng ‘Kali Serang yang Menangis’ supaya mereka sejak kecil peduli lingkungan,” jelasnya.

Aliansi ini juga menawarkan gagasan agar sebagian wilayah hutan produksi di Grobogan didorong menjadi hutan lindung, hutan konservasi, atau setidaknya hutan produksi terbatas. Menurut mereka, daya dukung hutan dan kawasan hulu saat ini sudah mengalami kerusakan cukup parah, sehingga memperbesar risiko banjir.

“Secara geografis, Purwodadi seperti mangkuk yang menampung air dari Pegunungan Kendeng di utara dan Pegunungan Geyer di selatan, serta diapit Sungai Lusi di timur dan Bendung Klambu di barat. Kalau hujan deras, banjir sulit dihindari,” ungkap Hilal.

Ia menambahkan, bencana banjir juga memperparah ketimpangan ekonomi. Warga miskin menjadi semakin rentan karena harus berjuang memenuhi kebutuhan pokok di tengah keterbatasan.

“Menanam pohon ini memang langkah kecil, tapi kami berharap desa jadi lebih hijau. Kelak, saat pohon-pohon ini besar, bisa membantu menjaga DAS Serang, bahkan buahnya bisa dipanen,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak sekolah dasar juga menampilkan pembacaan puisi “Bunga dan Tembok” sebagai pengingat bagi para pengambil kebijakan agar terus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Aksi tanam pohon di Desa Cingkrong ini berlangsung sejak pagi hari dan disambut antusias warga. Jasmi, selaku tuan rumah, mengaku senang banyak pihak datang membawa bibit untuk menghijaukan desanya.(mun)

Editor : Mahendra Aditya
#banjir #tanam pohon 2026 #Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo