GROBOGAN – Persoalan pencemaran sumur warga akibat aktivitas dapur Mitra SPPG Karangharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, ternyata telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Dampak limbah cair bahkan mulai dirasakan warga sejak 20 Oktober 2025.
Air sumur yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari perlahan berubah warna menjadi hitam dan keruh. Kondisi itu membuat warga khawatir karena sumur menjadi sumber air utama bagi sebagian besar masyarakat sekitar dapur SPPG.
Keluhan warga kemudian disampaikan dalam rapat koordinasi antara perwakilan masyarakat dan pihak SPPG Karangharjo. Dari forum tersebut terungkap bahwa sistem pengolahan limbah sebelumnya belum dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sehingga proses pengolahan belum berjalan maksimal.
Menanggapi keluhan itu, pengelola SPPG Karangharjo menyatakan kesiapannya untuk memperbaiki. Sejak rapat koordinasi pertama, pihak SPPG mulai melakukan langkah penanganan bertahap.
Warga mengusulkan agar kapasitas penampungan limbah cair diperbesar guna mencegah limpasan ke lingkungan sekitar. Usulan tersebut kemudian direalisasikan dengan pembangunan delapan bak penampungan limbah.
Setelah penambahan bak, kualitas air di bak penampungan terakhir mulai menunjukkan perbaikan, meski belum sepenuhnya optimal.
“Kami menyadari sebelumnya sistem pengolahan belum dilengkapi IPAL, sehingga pengolahan limbah belum maksimal. Karena itu kami segera melakukan pembenahan. Alhamdulillah, awal Januari ini alat IPAL sudah selesai dibangun dan sudah mulai dioperasikan,” ujar Kepala SPPG Karangharjo, Adhe Wahyu Setyawan.
Selain perbaikan teknis, pihak SPPG juga melakukan penanganan dampak langsung terhadap warga terdampak.
Selama proses perbaikan berlangsung, pengelola mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga yang sumurnya tercemar serta menjalin komunikasi intensif dengan Amin Natuz Zuhriyah, Sumiyati, dan pengurus musala setempat.
Sebagai tahap lanjutan, SPPG Karangharjo memastikan akan dilakukan pengurasan sumur warga setelah IPAL beroperasi secara optimal, guna memulihkan kualitas air yang sempat tercemar.
Dengan rangkaian penanganan tersebut, pihak pengelola berharap persoalan pencemaran dapat segera teratasi dan aktivitas dapur SPPG ke depan tidak lagi menimbulkan gangguan lingkungan. (int)
Editor : Zainal Abidin RK