GROBOGAN – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai menjenguk para santri yang menjadi korban dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di RSUD dr Soedjati Purwodadi, Kabupaten Grobogan.
Setibanya di rumah sakit, Pigai langsung menuju Ruang Asoka untuk berdialog dengan pasien yang masih menjalani perawatan.
Di hadapan para santri, Pigai menanyakan langsung keluhan yang dirasakan setelah menyantap menu MBG.
Ia juga memberikan penguatan mental agar para korban tidak mengalami trauma dan tetap semangat bersekolah.
“Nanti jangan trauma ya. Ini akan diperbaiki. Setelah ini semangat sekolah lagi,” ujar Pigai sembari menyemangati pasien terdampak.
Dari dialog tersebut, Pigai menyebut rata-rata kondisi pasien sudah membaik. Namun demikian, masih ada beberapa siswa yang mengeluhkan kondisi perut yang belum pulih sepenuhnya.
Dalam kunjungannya, Pigai juga menelusuri asal penyaluran makanan MBG. Dari keterangan pasien, diketahui makanan berasal dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Ternyata dari satu SPPG. Ini nanti perlu dievaluasi,” tegasnya.
Pigai mengungkapkan, total pasien yang sempat menjalani perawatan mencapai 113 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 59 pasien dirawat di RSUD dr Soedjati, dan kini tinggal 13 orang yang masih menjalani perawatan.
“Semua sudah membaik dan akan segera kembali melanjutkan sekolah,” paparnya.
Ia menegaskan, informasi yang disampaikan merupakan hasil peninjauan awal di lapangan.
Hasil evaluasi lanjutan bersama seluruh SPPG se-Kabupaten Grobogan, kata Pigai, bisa saja menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif.
“Berdasarkan informasi yang saya terima, saya berkesimpulan bahwa apa yang dialami oleh siswa-siswi ini memang karena makanan yang kurang higienis. Rata-rata sakitnya sama, mereka sakit setelah makan makanan yang sama dan SPPG-nya juga sama,” jelasnya.
Menurut Pigai, temuan tersebut menjadi dasar perlunya evaluasi menyeluruh terhadap SPPG, bahkan secara profesional, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Ia menegaskan, program MBG merupakan program mulia Presiden RI yang bertujuan menyiapkan generasi emas Indonesia.
“Tujuannya sangat baik. Program ini sudah menjangkau sekitar 53 juta penerima. Dari jumlah itu, memang ada sekitar 50 sampai 100 kasus yang terdampak. Meski persentasenya hanya sekitar 0,0017 persen, kami tetap akan bekerja keras melakukan perbaikan,” ujarnya.
Pigai menegaskan, pemerintah tidak menginginkan satu pun siswa terdampak dalam program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi dan masa depan generasi penerus bangsa tersebut.
“Program ini baik dan mulia. Kami tidak ingin satu orang pun terkena dampaknya. Jika setelah evaluasi sumber masalahnya dari SPPG, maka SPPG harus dibenahi agar ke depan lebih baik lagi,” pungkasnya. (int)
Editor : Mahendra Aditya