GROBOGAN – Lonjakan pasien dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gubug memaksa RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug membuka ruang perawatan tambahan.
Di tengah situasi tersebut, Ketua Satgas MBG Grobogan, Sugeng Prasetyo, turun langsung ke rumah sakit untuk menjenguk para santri yang tengah menjalani perawatan, sekaligus memastikan penanganan berjalan optimal dan transparan.
Didampingi Sekretaris Daerah Grobogan Anang Armunanto, Sugeng mengunjungi RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug, Minggu (11/1).
Di rumah sakit ini, sedikitnya 40 santri dirawat dan tersebar di IGD, ruang perawatan lantai dua dan tiga. Bahkan, ruang isolasi terpaksa difungsikan sebagai ruang rawat inap menyusul dengan terus bertambahnya jumlah pasien.
Rombongan menyisir satu per satu ruang perawatan, menyapa para santri serta keluarga pendamping. Dalam dialog langsung tersebut, Ketua Satgas MBG Grobogan menggali kronologi kejadian hingga keluhan yang dirasakan setelah menyantap menu MBG.
Para santri menyampaikan, biasanya makanan datang sekitar pukul 09.00. Namun saat kejadian baru tiba sekitar pukul 11.00. Ada yang langsung mengonsumsi, ada pula yang baru dimakan setelah salat Jumat.
Selain keterlambatan distribusi, para santri juga mengeluhkan perubahan rasa menu. Telur yang disajikan dirasakan berbeda dan cenderung kurang enak. Sementara nasi kuning disebut memiliki rasa tidak seperti biasanya, dengan kondisi nasi bagian bawah lembap dan lengket.
Meski begitu, Sugeng meminta para santri agar tidak trauma terhadap program MBG ke depan. Ia menegaskan, evaluasi dan pembenahan akan dilakukan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
“Jangan sampai trauma. Ke depan, dapur dan seluruh proses MBG akan kami benahi agar lebih baik,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko, memastikan kondisi pasien secara umum mulai membaik. Meski demikian, beberapa santri masih memerlukan pengawasan ketat.
“Sebagian besar sudah membaik, namun masih ada yang dalam observasi. Kami terus memantau perkembangannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada Sabtu (10/1) tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kesehatan, puskesmas, dan SPPI telah mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan kemungkinan adanya SOP yang terabaikan dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan.
“Tim juga mengambil sampel menu hari Jumat, yakni nasi kuning, telur dadar, orek tempe, dan abon. Seluruhnya akan diperiksa untuk mengetahui sumber dugaan keracuna. Sampelnya akan dikirim ke Labkesda,” jelasnya.
Berdasarkan data sementara hingga Minggu (11/1) pagi, jumlah pasien yang masih menjalani rawat inap mencapai 83 orang, sementara total warga yang terdampak secara keseluruhan diperkirakan lebih dari 600 orang. Namun, angka tersebut masih bersifat dinamis.
Jumlahnya terus berubah karena ada pasien yang masuk dan pulang. Sebagian besar pasien rawat jalan berasal dari santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gubug dengan keluhan beragam, mulai dari mual, muntah, diare hingga dehidrasi.
“Pasien dengan kondisi dehidrasi langsung kami lakukan rawat inap dan ditangani di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, RSUD dr Soedjati Purwodadi, Puskesmas Kedungjati, Godong I, dan Karangrayung I,” pungkasnya. (int)
Editor : Mahendra Aditya