GROBOGAN – Diduga untuk digunakan pengambilan air tanah untuk pabrik di Wirosari sejumlah warga Dusun Krajan, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon menyatakan penolakan.
Mereka kawatia air tanah di desa mereka habis dan memperparah kekeringan yang hampir setiap tahun terjadi.
Ida, salah satu warga, menuturkan bahwa sumur menjadi satu-satunya sumber air bersih warga Krajan.
Jika tidak hujan seminggu saja, sumur warga sudah mulai mengering.
”Jika air tanah diambil banyak untuk pabrik, kami takut air habis, nanti bisa kekeringan, tanah juga ambles. Soalnya yang ngambil pabrik,” kata dia.
Menurutnya pekerjaan penggalian saluran pipa menuju pabrik diketahui telah dimulai pada 25 November lalu.
Warga mengaku kaget karena tidak pernah ada pemberitahuan sebelumnya.
Mereka baru tahu setelah melihat alat berat bekerja di lokasi dan menanyakannya kepada pekerja lapangan.
Hal sama juga diungkapkan Maskur, 63, tokoh masyarakat setempat menilai proses ini tidak transparan. Penggalian saluran dilakukan tanpa ada pemberitahuan dari warga.
”Tidak ada sosialisasi sama sekali. Tiba-tiba ada alat berat. Pekerja bilang airnya mau dikirim ke Pungkook. Warga takut air di sini habis,” terang dia.
Dia menambahkan, sumur bor tersebut merupakan program bantuan pemerintah untuk pertanian, sehingga penggunaannya harus tetap sesuai peruntukan awal.
”Setahu saya sumur bor bantuan pemerintah, untuk pertanian dan kebutuhan masyarakat di sini. Tidak boleh dialihkan untuk pihak luar,” tegasnya.
Adanya kejadian tersebut warga pun langsung mengajukan protes kepada kepala desa.
Saat ini pekerjaan dihentikan sementara sambil menunggu tindak lanjut. Namun warga tetap pada sikap tegas menolak pemanfaatan air tanah untuk kebutuhan pabrik.
Selama ini warga hanya memiliki satu pompa untuk kebutuhan bersama, dan penggunaannya bergilir. Saat musim kemarau, air kerap tidak mencukupi.
“Kami setiap kemarau saja sudah susah air. Kalau masih disedot untuk dikirim ke luar desa, ya tambah habis,” harap dia. (mun)
Editor : Ali Mustofa