Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sistem Resi Gudang Grobogan Dilirik Zimbabwe, Jadi Model Kerja Sama Pertanian Internasional

Intan Maylani Sabrina • Minggu, 9 November 2025 | 22:43 WIB
INVESTASI: Pemkab Grobogan saat one-on-one meeting dengan Zimbabwe di CJIBF 2025.
INVESTASI: Pemkab Grobogan saat one-on-one meeting dengan Zimbabwe di CJIBF 2025.

GROBOGAN - Sistem Resi Gudang (SRG) Kabupaten Grobogan mencuri perhatian dunia. Dalam ajang Jateng Investment Challenge 2025 yang difasilitasi oleh Bank Indonesia, proyek SRG Grobogan menjadi salah satu yang juga dilirik investor, salah satunya dari Zimbabwe yang secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama.

Minat Zimbabwe muncul bukan tanpa alasan. Negara di Afrika bagian selatan itu menilai sistem SRG yang dikembangkan di Grobogan mampu menjawab tantangan klasik sektor pertanian.

Fluktuasi harga hasil panen, lemahnya infrastruktur penyimpanan, dan terbatasnya akses petani terhadap pembiayaan.

Dalam sesi one-on-one meeting, perwakilan investor asal Zimbabwe menyampaikan akan membawa informasi tersebut ke negaranya untuk ditawarkan lebih lanjut.

Mereka mempelajari sistem resi gudang yang telah berhasil menstabilkan harga dan meningkatkan kesejahteraan petani di Jawa Tengah.

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Grobogan, Abdul Munib Susanto, menjelaskan bahwa proyek SRG menjadi bagian penting dalam strategi investasi daerah yang berorientasi pada ekonomi berkelanjutan.

“SRG bukan hanya gudang penyimpanan. Ini adalah sistem tata niaga modern yang memberi perlindungan kepada petani dari anjloknya harga saat panen raya sekaligus membuka akses pembiayaan melalui jaminan resi. Model ini yang menarik bagi Zimbabwe,” jelasnya.

SRG Grobogan yang berlokasi di Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari, telah beroperasi sejak 2017 dan menjadi salah satu proyek unggulan pertanian di Jawa Tengah. Gudang berkapasitas 1.500 ton ini melayani wilayah pertanian di Wirosari, Ngaringan, Gabus, dan Pulokulon.

Berdasarkan data DPMPTSP, hingga kini telah diterbitkan 43 dokumen resi gudang dengan volume transaksi 2.648 ton atau senilai lebih dari Rp 30 miliar.

Pada tahun 2022, SRG Dapurno mencatat transaksi sebesar Rp 1,44 miliar hanya dari komoditas gula pasir. Sistem ini juga melibatkan 940 petani, 2 koperasi, dan 8 kelompok tani dalam jaringan kemitraan yang terintegrasi.

Melalui kerja sama dengan lembaga keuangan, petani bisa mengajukan pinjaman menggunakan resi gudang sebagai jaminan tanpa harus menjual hasil panen saat harga rendah.

Munib menegaskan, SRG terbukti memperkuat struktur ekonomi lokal dan mendorong stabilitas harga komoditas strategis.

“Selama ini petani sering rugi karena panen raya membuat harga anjlok. Dengan SRG, hasil panen bisa disimpan sambil menunggu harga stabil. Petani tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup karena dapat pembiayaan dari bank. Ini sistem yang berpihak pada petani,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, potensi pendapatan SRG di Grobogan cukup besar. Berdasarkan analisis dalam Profil Investasi PRKP 2025, total revenue SRG mencapai Rp 183,12 miliar per tahun. Jika diintegrasikan dengan Sentra Tani Agribisnis (STA), nilai ekonomi bisa meningkat hingga Rp 188,75 miliar per tahun.

Angka ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor luar negeri, termasuk Zimbabwe, yang menilai proyek ini tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga memiliki kepastian pasar dan efek ekonomi yang luas.

Menurut Munib, Pemerintah Zimbabwe melihat peluang penerapan sistem SRG di negaranya yang juga berbasis pertanian namun menghadapi kendala serupa: hasil panen melimpah tanpa fasilitas penyimpanan memadai.

“Mereka melihat Grobogan punya ekosistem pertanian yang solid. Ada koperasi, kelompok tani, dukungan pemerintah, dan sistem digital yang sudah berjalan. Zimbabwe ingin belajar dari model ini,” ujarnya.

Selain SRG, Grobogan juga menampilkan dua proyek lain dalam forum investasi tersebut, yakni Refused Derived Fuel (RDF) dan Liquified Bio Gas (LBG) dari bonggol jagung.

RDF ditujukan untuk mengolah sampah organik dan anorganik menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, sementara LBG fokus pada pengelolaan limbah pertanian menjadi energi bersih dan pupuk organik. Ketiganya menjadi bagian dari strategi besar investasi hijau daerah yang sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan (green economy).

“Investor Zimbabwe menyebut bahwa SRG Grobogan adalah contoh konkret dari sistem ekonomi berbasis hasil bumi yang adil dan transparan. Mereka ingin menjajaki kemungkinan kerja sama, baik dalam bentuk investasi langsung maupun transfer teknologi,” tambah Munib.

Pemkab Grobogan bersama Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana menindaklanjuti peluang tersebut melalui penjajakan kerja sama internasional. Rencananya, akan dilakukan kunjungan lapangan dan penyusunan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara kedua pihak.

“Ini bukan hanya tentang investasi, tapi juga diplomasi ekonomi daerah. Grobogan ingin menunjukkan bahwa inovasi pertanian dari desa bisa menjadi inspirasi global. Jika Zimbabwe bisa menerapkan model yang sama, maka Grobogan telah berkontribusi nyata bagi pengembangan sistem pertanian dunia,” pungkas Munib. (int)

Editor : Mahendra Aditya
#grobogan #SRG #investasi