KISAH Suprojo warga Dusun Lanjaran, Desa Baturagung, Kecamatan Gubug menjadi pengusah dan anggota DPRD Grobogan tidak didapatkan dengan mudah.
Dia melalui dengan jalan berliku, jatuh bangun usaha pernah dijalaninya. Mulai dari bekerja jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, Nyalon Kepala Desa (Kades) dua kali gagal tidak jadi sampai uang habis tidak tersisa.
Dengan tekat kuat sebagai pengusaha kontraktor dia kini sukses dengan usahanya dan menjadi anggota dewan dari fraksi PKB.
Suprojo dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Dia sekolah di SD Negeri di Desanya dan SMP di Gubug.
Sejak masih di bangku SMP dia memanfaatkan libur sekolah dengan menjadi kuli di Jakarta. Setelah dapat uang dia pulang kembali ke kampung untuk sekolah.
Kebiasaan itu, sampai dengan waktu di jenjang pendidikan SMA. Dia mengaku, saat menjadi siswa SMA harus pindah sekolah sampai lima sekolah.
Mulai dari sekolah negeri sampai swasta dia jalaninya. Alasanya pindah karena sering tidak masuk sekolah karena ditinggal merantau bekerja di Jakarta.
”Saya dulu berawal dari orang tidak punya mas. Kerja kuli bangunan pernah saya lakukan dan saat SMA pindah sekolah sampai lima kali karena jarang masuk sekolah dikarenakan bekerja,” aku Suprojo.
Dari tekat yang kuat dan ingin maju, dia belajar dengan sungguh untuk belajar dan bekerja. Keingin kuliyah tidak punya biaya pada tahun 1997.
Kemudian dirinya pergi ke Jakarta untuk merantau di Jakarta. Saat berada di Jakarta melihat ada lowongan pekerjaan di Saudi Arabia lewat membaca Koran untuk jadi pelayan di Arab Saudi.
Hingga akhirnya dirinya lulus SMA dan melamar menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Lamaran yang diajukan saat itu adalah bekerja di restoran.
Namun, untuk menjadi TKI ada tes bahasa arab, tes bahasa Arab tes psikologi, tes membaca Alquran dan tes lainya.
Dari 30 orang yang mendaftar dia satu-satunya diterima dan bekerja di pelayanan restoran di Riyad Arab Saudi. Padahal lawanya ada yang lulusan sarjana dan pondok pesantren.
Setelah sukses dapatkan uang, dirinya memutuskan pulang ke kampung halaman di Desa Sumberagung, Kecamatan Gubug.
Karena ada dorongan dari keluarga dan warga masyarakat sekitar dirinya mencalonkan diri jadi kepala Desa Tahun 2007.
Mau menggantikan kakaknya yang sebelumnya jadi Kepala Dea sebelumnya. Tetapi hasil coblosan dirinya belum terpilih.
”Saya kemudian merantau lagi ke Jakarta dan diangkat jadi mandor proyek setelah dua tahun bekerja,” ujar anggota dewan dengan rambut gondrong ini.
Setelah jadi mandor ini, dirinya mendapatkan kepercayaan menjadi rekanan dari Waskita Karya BUMN yan mengurusi tentang infrastruktur pembangunan.
Dalam proyek itu, dia menangani pembangunan pasca gempa di Padang Sumatera Utara tahun 2009.
Dia membangunan masjid, rumah dan bangunan perkantoran. Setelah dari Padang, pindah Palembang, Medan.
Dia selama 10 tahun ada di Sumatera . Bahkan sampai saat ini, dari pulai besar di Indonesia yang belum ditangani adalah proyek di Papua Barat.
Sedangkan proyek Sulawesi, Sumatera, Bali, Kalimantan dan NTT semua sudah ditangani.
”Usai sukses jadi kontraktor. Dia pulang lagi tahun 2019 pulang ke rumah dan mencalonkan diri jadi Kepala Desa. Tetapi belum jadi lagi,” kenang dia.
Kekalahan calonan kedua Kepala Desa ini menjadikan dirinya tidak punya modal lagi dan berangkat dari nol.
Semua harta,dan lainya terjual semua. Bahkan hutang menumpuk untuk modal jadi kepala Desa. Selanjutnya kembali kerja di proyekan dan merantau lagi ke Jakarta.
Dari proyek itu, dirinya dinilai berhasil dan namanya muncul kembali di Waskita dan dipercaya. Kemudian diminta untuk menggarap proyek pembuatan res area Palembang.
Dari proyek itu, dirinya berhasil melaksanakanya. Meski pada tahun 2019 terjadi bencana Covid 19.
Dengan tekad kuat tersebut dirinya berhasil menyelesaikan pekerjaan yang ditanganinya.
Hasil dari pekerjaan tersebut dirinya bisa membayar sisa hutang dari pencalonan kades lalu.
”Lima tahun bangkit ini saya berhasil kembali dan mencalonkan diri jadi anggota dewan. Sekarang sudah punya delapan mobil dan beberapa rumah di daerah lain,” tandasnya.
Menurutnya keberhasilan ini tidak hanya usaha diri sendiri tetapi karena bantuan dan anugerah dari Allah.
Dimana dirinya senang membantu warga kurang mampu dan menolong anak yatim piatu.
Dia memelihara anak yatim dengan mencukupi kebutuhan sehari-hari dan mencukupi kebutuhan sekolah.
Selain itu, juga suka membantu pembangunan mushollah dan masjid di Grobogan serta lainya.
Bahkan dirinya juga memberangkatkan imam masjid untuk berangkat umroh ke tanah Suci Makkah dan Madinah.
”Saya ikut jadi anggota dewan karena ingin memperjuangkan aspirasi dari bawah. Terutama untuk dapil empat bagian Kecamatan Gubug bagian utara yang sebelumnya tidak pernah ada anggota dewan. Kini semua saya kembali ke dapil karena saya sudah cukup hasil dari kontraktor,” tandasnya.
Apalagi dia berprinsip bahwa dirinya bekerja untuk dirinya sendiri.
Tetapi untuk berbagi dengan orang tidak punya, kemudian anak yatim piatu dengan lakukan santunan setiap tiga bulan sekali.
Setiap doa anak yatim akan dikabulkan oleh Allah SWT. Kemudian membantu pembangunan musholla dan masjid. (*)
Editor : Ali Mustofa