RADAR KUDUS - Transformasi layanan kesehatan primer menjadi salah satu pilar penting dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Fokusnya terletak pada penguatan kegiatan promotif dan preventif di seluruh siklus kehidupan, termasuk kelompok lanjut usia (lansia).
Salah satu wujud implementasinya adalah Skrining Lansia Sederhana (SKILAS), sebuah inovasi deteksi dini penyakit tidak menular yang memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Kompetensi Kader Lansia di Era Transformasi Layanan Kesehatan Primer” ini dilaksanakan pada September hingga Oktober 2025 di Desa Jatilor, wilayah kerja Puskesmas Godong 1, Kabupaten Grobogan.
Program ini dipimpin oleh Ns. Wahyu Riniasih, M.Kep., bersama dua anggota tim dan dua mahasiswa Keperawatan Universitas An Nuur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tahun pendanaan 2025.
Mitra utama kegiatan ini adalah Posyandu di Desa Jatilor yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Godong 1, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah.
Tujuan utama pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam pelaksanaan SKILAS.
Proses kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, penyuluhan, pembentukan kader lansia, pelatihan, hingga monitoring dan evaluasi dua tahap.
Penilaian efektivitas program dilakukan melalui pre-test, post-test, serta observasi lapangan.
Setelah pelatihan, tim melakukan pendampingan dan pemantauan terhadap kegiatan Posyandu selama satu bulan berikutnya. Hasilnya menunjukkan perubahan positif yang signifikan.
Posyandu lansia kini aktif kembali di seluruh dusun dan rutin menyelenggarakan kegiatan setiap bulan.
Para kader mampu melakukan skrining lansia sederhana secara mandiri menggunakan alat ukur yang telah disediakan, serta mencatat data kesehatan masyarakat secara lebih rapi dan sistematis melalui formulir hasil pelatihan.
Dampak menarik lainnya adalah munculnya semangat kewirausahaan dari para kader. Mereka mulai mengembangkan produk lokal seperti teh celup daun kelor dan jajanan sehat berbahan dasar kelor, hasil inovasi yang muncul dari sesi pelatihan.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya meningkatkan kapasitas kader di bidang kesehatan, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini terbukti efektif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan kader dari kategori kurang menjadi baik pada 91,3% peserta, serta peningkatan keterampilan dari tidak terampil menjadi terampil pada 95,7% peserta.
Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan pelatihan yang partisipatif, dukungan aktif dari Puskesmas dan Pemerintah Desa, serta integrasi nilai kewirausahaan yang sejalan dengan visi universitas.
Program ini juga mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan di luar kampus serta menghasilkan luaran publikasi ilmiah.
Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat sebagaimana diatur dalam Permenkes No. 8 Tahun 2019, yang menegaskan pentingnya kemampuan masyarakat dalam mengenali dan mengatasi masalah kesehatannya sendiri.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kapasitas kader Posyandu, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Program ini menjadi bukti nyata sinergi antara pendidikan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan mandiri. (*)
Oleh Ns. Wahyu Riniasih, M.Kep. (Dosen An Nuur Purwodadi)
Editor : Mahendra Aditya