GROBOGAN– Sebuah mobil elf terjun ke sungai saat melintas di Jembatan Sidorejo–Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Senin (6/10) pagi sekitar pukul 07.30 WIB.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Menurut keterangan warga, mobil tersebut sempat terendam cukup lama di dasar sungai.
Evakuasi terhadap kendaraan baru berhasil dilakukan sekitar pukul 14.15 WIB setelah warga bersama petugas datang ke lokasi menggunakan alat bantu seadanya.
Kepala Dusun Krajan Desa Sidorejo, Heri Siswanto, menjelaskan, mobil elf itu dikemudikan warga Dusun Ngampel, Desa Panunggalan, bernama Mus.
Saat kejadian, Mus bersama anaknya hendak mengembalikan mobil milik warga Desa Tuko.
Karena Jembatan Tuko–Panunggalan sedang dalam perbaikan, mereka memilih jalur alternatif melalui Jembatan Sidorejo–Jatiharjo.
“Jembatan itu sebenarnya sudah rusak parah dan tidak layak dilalui kendaraan roda empat. Tapi karena tidak ada jalan lain yang dekat, mereka nekat lewat situ. Saat menurun, rem mobil blong dan akhirnya tidak terkendali hingga tercebur ke sungai,” terang Heri.
Warga yang berada di sekitar lokasi langsung berhamburan menolong dua korban yang masih berada di dalam mobil.
Keduanya berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat, meski mobil sempat tenggelam lebih dari separuh bodinya.
Insiden di jembatan tersebut bukan yang pertama. Dua hari sebelumnya, Sabtu (4/10), sebuah mobil pick up bermuatan material juga mengalami kecelakaan di lokasi yang sama.
Mobil itu gagal menanjak di ujung jembatan yang menukik, namun beruntung tidak sampai menimbulkan korban.
Jembatan Sidorejo–Jatiharjo memang sudah lama rusak parah. Tiang penyangga jembatan diketahui telah miring dan badan jembatan melengkung.
Struktur beton sepanjang sekitar 100 meter dengan lebar hanya 2,5 meter itu melintasi sungai yang berhulu di Bendung Simo.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisinya terus memburuk tanpa perbaikan berarti.
Meski sudah ada larangan melintas bagi kendaraan roda empat, sejumlah pengemudi tetap nekat melintas karena tak ingin memutar jauh.
Padahal, jarak tempuh jalan alternatif bisa mencapai sekitar 12 kilometer, misalnya jika warga Sidorejo hendak menuju Sendang Coyo melalui Tuko–Panunggalan.
Menurut Heri, pemerintah desa sudah berupaya memperjuangkan perbaikan jembatan tersebut.
Tahun ini, wilayah itu bahkan mendapat bantuan pembangunan jembatan gantung dari pemerintah pusat yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi.
Namun, jembatan gantung itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
“Kalau diperbaiki pakai dana desa tidak cukup, karena dana desa kami hanya sekitar Rp 1,4 miliar, sedangkan perbaikan jembatan ini butuh dana lebih besar. Kami berharap status aset jembatan segera diserahkan ke Pemkab Grobogan supaya bisa diusulkan perbaikan lewat APBD,” harapnya.
Warga berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan pemerintah segera turun tangan memperbaiki jembatan penghubung antar-desa yang vital bagi aktivitas masyarakat Pulokulon itu. (int)
Editor : Ali Mustofa