GROBOGAN– Di tengah geliat pembangunan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Sugihmanik Business Park, sebanyak 300 pemuda dari desa tersebut dan sekitarnya memantapkan langkah untuk menyambut peluang.
Mereka mengikuti pelatihan soft skills bertajuk “Ayo Siap Kerja: Menumbuhkan Growth Mindset Dunia Kerja” yang digelar pada 4–7 Agustus 2025 di Balai Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan.
Pogram ini digagas oleh Prakosa Institute dan didukung oleh PT Samudera Pandume Redi (SPR) serta PT Azam Laksana Intanbuana (ALIB) selaku pengelola KPI Sugihmanik.
Hadirnya pelatihan ini menjadi bagian penting dari upaya menyelaraskan pertumbuhan industri dengan pemberdayaan masyarakat lokal.
Agar warga tidak sekadar menjadi penonton, tetapi pelaku yang tumbuh bersama kawasan peruntukan industri.
Direktur Utama Prakosa Institute, Petra W. Bodrogini menyampaikan program pelatihan ini memang dirancang secara khusus untuk meningkatkan kompetensi non-teknis para peserta.
"Fokus utamanya membangun keterampilan dasar seperti komunikasi, kemampuan beradaptasi, serta pola pikir kreatif dan inovatif—semua hal yang sangat dibutuhkan di dunia kerja saat ini," jelasnya.
Mereka terjun langsung ke dalam simulasi wawancara kerja, roleplay komunikasi, latihan membuat CV, kerja tim, hingga resolusi konflik.
Semuanya dikemas dalam format partisipatif dan berbasis pengalaman, sehingga mampu meninggalkan kesan mendalam dan membentuk kesiapan nyata.
Menurutnya, seluruh materi dikemas dalam pengalaman langsung, agar lebih mudah dipahami dan terinternalisasi.
Pendekatan berbasis praktik inilah yang diharapkan mampu melekat lebih kuat dan dapat diterapkan peserta setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
“Pelatihan ini tak sekadar ceramah. Kami ingin peserta mengalami sendiri proses belajar yang hidup dan kontekstual," ujarnya.
"Harapannya, soft skills ini bisa benar-benar terinternalisasi, dan menjadi bekal ketika peluang kerja di kawasan industri mulai terbuka. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mempersiapkan SDM lokal,” jelasnya.
Antusiasme warga terlihat tinggi. Dari total peserta, 70 persen berasal dari Desa Sugihmanik, sementara sisanya dari desa dan kabupaten tetangga.
Tak sedikit yang sebelumnya bekerja serabutan, kini mulai menemukan arah dan motivasi baru.
Adapun materi yang disampaikan meliputi growth mindset, etika kerja dan profesionalisme, komunikasi efektif, manajemen konflik, hingga kerja tim lintas latar belakang.
Setiap peserta juga menyusun Rencana Aksi Bertumbuh sebagai bekal pascapelatihan untuk tetap konsisten dalam pengembangan diri.
Direktur Utama PT ALIB, Didik Prawoto, menegaskan bahwa kawasan industri bukan hanya tentang bangunan dan investasi, tetapi tentang manusia yang akan menjalankannya.
“Kami tidak ingin membangun kawasan industri yang asing bagi masyarakat sekitarnya. Justru, warga lokal adalah mitra utama kami. Investasi terbesar adalah pada sumber daya manusianya,” ujarnya.
Salah satu peserta, Rere Putri (21), mengaku merasakan perubahan besar setelah mengikuti pelatihan.
“Biasanya kerja di kedai, nggak tahu caranya bikin CV atau menjawab saat wawancara. Sekarang jadi lebih percaya diri. Harapannya, kalau nanti ada lowongan di kawasan industri, saya sudah siap,” ucapnya sambil tersenyum.
Di akhir pelatihan, seluruh peserta menerima sertifikat resmi dari Prakosa Institute, sebagai pengakuan atas kompetensi yang telah mereka bangun—dan menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan. (int)
Editor : Ali Mustofa