Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Perjalanan M Rasya Alfarelhudy, Dari Dusun Kecil di Grobogan ke Istana Negara

Intan Maylani Sabrina • Kamis, 3 Juli 2025 | 21:21 WIB
GAGAH: M Rasya Alfarelhudy saat ditemui di Bakesbangpol Grobogan.
GAGAH: M Rasya Alfarelhudy saat ditemui di Bakesbangpol Grobogan.

GROBOGAN - Dari sebuah dusun kecil di dekat hutan bernama Gadon, Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, tumbuh seorang remaja yang kini tengah bersiap mengibarkan bendera pusaka di Istana Negara.

Namanya Muhammad Rasya Alfarelhudy yang kini menjadi calon Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Nasional 2025.

Perjalanan yang dilalui M Rasya Alfarelhudy tentu bukanlah hal yang mudah.

Sebab sebelum bisa sampai ke sana, Rasya -sapaan akrabnya- ini harus melalui seleksi yang cukup panjang.

Mulai dari mengikuti tahapan seleksi Paskibraka tingkat Kabupaten Grobogan, seleksi tingkat Provinsi Jawa Tengah hingga seleksi calon Paskibraka Tingkat Nasional Tahun 2025 ini.

Remaja kelahiran 17 Desember 2008 inia dalah representasi bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang sederhana.

Rasya adalah anak sulung dari pasangan Mashudi dan Wachitri Yulia Kurnianingsih.

Selama ini dia bukan anak yang dibesarkan dalam lingkungan militer, namun kedisiplinan sudah ditanamkan sejak dini.

Ayahnya yang seorang pelayar atau tepatnya marine engineering sebuah kapal barang nasional saat itu, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.

Dari ayahnyalah ia mengenal latihan fisik sederhana, seperti push-up dan sit-up yang dibiasakan setiap harinya.

Mulailah tumbuh ketertarikan Rasya pada dunia baris-berbaris yang bermula sejak duduk di bangku SMP.

Saat itu ia kerap mengikuti lomba PBB yang digelar Kodim 0717/Grobogan. Sejak saat itu, ia mulai tertarik mendalami paskibra.

Memasuki SMA, keinginannya untuk serius di jalur ini mendapat dukungan. Sekolah memfasilitasi, latihan semakin intens.

Hingga suatu ketika, ia mendengar kabar seleksi Paskibraka dari seorang senior di komunitas Korps Pasukan Pengibar Bendara (Kopasbara).

“Seleksi diikuti dari pertengahan kelas X sampai saya naik ke kelas XI ini. Persiapan intens saya lakukan. Mulai dari administrasi, tes akademik, tes fisik, wawancara dan psikotes. Istilahnya TIU, TWK hingga pantukir," ujarnya.

Rasya terus berproses. Ia mengembangkan kemampuan fisiknya, mematangkan aspek akademis, dan melatih gaya komunikasi.

Namun siapa sangka, dari hal kecil itu Rasya melaju dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional ini.

Meski selama seleksi menuju tingkat nasional dia sempat merasa minder. Lantaran tinggi badannya kedapatan diambang batas persyaratan.

"Saat di tingkat Provinsi Jateng pas diukur memiliki TB 177 cm, di tingkat nasional malah jadi 175 cm. Memang tidak pendek, namun di antara peserta dari seluruh provinsi sempat merasa minder lantaran saingannya memiliki postur yang cukup tinggi," ujarnya.

Namun Rasya tidak menyerah. Ia menyiapkan segalanya dengan tekun.

Latihan fisik dilakukan setiap hari, dengan peningkatan jarak dan kecepatan lari. Hanya ada satu hari istirahat dalam sepekan.

Siswa SMAN 1 Wirosari ini juga menjaga pola makan, menjauhi es dan gorengan demi menjaga suara dan daya tahan tubuh.

Tak hanya itu, Rasya juga aktif melakukan branding diri dengan membuat konten edukatif di media sosial pribadinya.

“Itu juga jadi nilai plus saat seleksi. Cara kita membawa diri saat wawancara, juga penting,” ujarnya.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Rasya dinyatakan lolos seleksi Paskibraka tingkat nasional dan akan mengikuti pelatihan intensif mulai 15 Juli hingga 28 Agustus 2025 di Jakarta.

"Saya berharap bisa ditugaskan dalam Pasukan 8, dengan posisi terhormat sebagai pengibar bendera," ungkapnya.

Kini Rasya masih tidak menyangka bisa sejauh ini. "Tapi sekarang saya bangga pada diri sendiri,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Setelah pelatihan nasional nanti, Rasya masih memendam satu cita-cita besar lainnya dengan menjadi Taruna Akademi Angkatan Laut.

Baginya, menjadi Paskibraka adalah langkah awal menuju impian itu.

“Semoga bisa membanggakan orang tua, sekolah, dan Grobogan. Saya ingin membuktikan bahwa anak dusun juga bisa sampai ke Istana Negara,” pungkasnya. (int)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #Lomba PBB #istana negara #paskibraka #bendera pusaka #sman 1 wirosari