GROBOGAN – Jembatan penghubung antar desa di Dusun Sreman, Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan ambrol akibat banjir besar Sungai Sedah yang terjadi pada Januari lalu.
Membuat akses pendidikan terganggu.Kini perbaikan diusulkan dalam APBD Perubahan nanti.
Diketahui, ambrolnya jembatan itu terjadi pada Jumat (17/1) sekitar pukul 22.30 WIB.
Jembatan sepanjang sekitar 40 meter itu putus setelah dua pilarnya terseret arus deras yang membawa tumpukan potongan bambu dari wilayah hulu.
Saat itu, peristiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kecamatan Tawangharjo dan sekitarnya, terutama di kawasan hulu Sungai Sedah.
Arus banjir membawa sampah berupa potongan bambu bekas tebangan yang diduga berasal dari kegiatan usaha pengolahan bambu di sepanjang bantaran sungai.
Tumpukan bambu tersebut menyumbat aliran sungai dan menghantam konstruksi jembatan hingga roboh.
Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan dan Irigasi Wilayah Pulokulon–Tawangharjo, Arief Pudji Santoso,dalam laporannya menyebutkan bahwa badan jembatan sepanjang kurang lebih 30 meter hilang terbawa arus, sementara dua abutment (pondasi ujung jembatan) masih dalam kondisi utuh.
"Putusnya jembatan ini berdampak besar terhadap akses warga Dusun Sreman ke Desa Tarub. Banyak anak sekolah dari Dusun Sreman yang sehari-hari menempuh pendidikan di Tarub, kini harus memutar jauh," keluhnya.
Sedangkan Kabid Rehabilitasi dan Konstruksi BPBD Grobogan Bondan Pujanarko, membenarkan peristiwa tersebut dan menyampaikan bahwa perbaikan jembatan sudah diusulkan melalui anggaran APBD Perubahan 2025.
“Jembatan itu memang statusnya jembatan desa, bukan ruas jalan kabupaten. Tapi karena fungsinya sangat vital bagi aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah, kami usulkan agar penanganan bisa dilakukan melalui pos pemulihan dan rekonstruksi bencana,” ujar Bondan.
BPBD Grobogan telah mengajukan estimasi kebutuhan anggaran sebesar Rp 350 juta untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi jembatan tersebut.
Saat ini, proses survei teknis dan pengumpulan data lapangan telah dilakukan bersama UPTD terkait.
Bondan juga menyoroti perlunya penataan ulang terhadap aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Sedah, terutama terkait penebangan dan pembuangan sisa bambu ke aliran sungai.
“Ini jadi pembelajaran penting. Sampah bambu yang dibuang sembarangan ikut memperparah bencana. Kami akan koordinasikan dengan pemerintah desa dan pihak terkait agar ke depan hal seperti ini tidak terulang,” pungkasnya. (int)
Editor : Ali Mustofa