Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kasus DBD Menurun di Grobogan, Angka Bebas Jentik Masih Rendah, 1.500 Kg Abate Didistribusikan

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 20 Mei 2025 | 22:26 WIB

 

DIBAGIKAN: Petugas saat membagikan abate ke wilayah yang angka bebas jentik rendah.
DIBAGIKAN: Petugas saat membagikan abate ke wilayah yang angka bebas jentik rendah.

GROBOGAN - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Grobogan menunjukkan tren penurunan.

Namun, angka bebas jentik (ABJ) di sejumlah wilayah masih tergolong rendah. Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mulai mendistribusikan sebanyak 1.500 kilogram abate ke masyarakat.

Sub Koordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan, Gunawan Cahyo Utomo, mengatakan bahwa pemberian abate difokuskan pada wilayah dengan capaian ABJ yang rendah. Proses distribusi dilakukan oleh para petugas juru pemantau jentik (jumantik).

Baca Juga: Waspada! Wabah Chikungunya Diduga Serang Satu Dusun di Sumberagung Grobogan, Ketahui Ini Gejalanya

"Tahun lalu, capaian ABJ masih rendah, berkisar antara 80 hingga 85 persen. Karena itu, daerah-daerah dengan ABJ rendah langsung diberi bantuan abate untuk ditaburkan di bak mandi dan tempat penampungan air.

Setiap puskesmas rata-rata mendistribusikan sekitar 20 kilogram," jelas Gunawan.

Ia menjelaskan, rendahnya ABJ mencerminkan masih kurangnya peran serta masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Padahal, Dinkes menargetkan angka ideal ABJ bisa mencapai minimal 95 persen.

"Kami masih membutuhkan upaya besar untuk menggugah kesadaran masyarakat agar aktif dalam program PSN. Sayangnya, kesadaran masyarakat masih tergolong rendah," keluhnya.

Baca Juga: Ratusan Rumah di Sukorejo Grobogan Kebanjiran Akibat Tanggul Sungai Renggong Jebol

Sementara itu, data Dinkes Grobogan menunjukkan adanya penurunan kasus DBD sejak awal tahun.

Pada Januari tercatat sebanyak 110 kasus, kemudian menurun menjadi 56 kasus pada Februari dan Maret, 34 kasus pada April, dan delapan kasus sementara pada bulan Mei.

Total kasus DBD hingga pertengahan Mei tercatat sebanyak 264 kasus.

"Kasus paling banyak terjadi pada anak-anak usia 5 hingga 14 tahun, karena mereka memiliki mobilitas yang tinggi," tambah Gunawan. (Intan Maylani)

Editor : Mahendra Aditya
#abate #grobogan #Nyamuk Demam berdarah #jentik nyamuk dbd #dinkes grobogan #jentik nyamuk