PURWODADI – Kondisi akses masuk ke Pasar Agro Purwodadi makin memprihatinkan.
Setiap hari, jalur utama keluar-masuk pasar justru menjadi area parkir sekaligus tempat berjualan dadakan oleh para pedagang buah dan sayur menggunakan mobil pikap.
Akibatnya, kemacetan tak terhindarkan, kenyamanan pengunjung terganggu, dan aktivitas pasar lumpuh sesaat pada jam-jam sibuk.
Pantauan di lapangan, dua jalur jalan utama yang menghubungkan Pasar Glendoh, Pasar Pagi, dan Pasar Agro Holtikultura, kini dipenuhi kendaraan bak terbuka yang bukan hanya parkir, tapi juga berdagang langsung dari atas mobil.
Jalur yang seharusnya menjadi akses vital distribusi logistik dan mobilitas pengunjung, berubah menjadi pasar tumpah yang semrawut.
Kondisi ini diperparah dengan infrastruktur jalan yang rusak parah dan berlubang, sehingga makin sulit dilalui.
Ketika hujan turun, genangan air di berbagai titik makin menyulitkan kendaraan dan pejalan kaki.
Tiga Pasar, Satu Akses, Masalah Menumpuk
Kompleks Pasar Agro kini menampung tiga unit pasar sekaligus: Pasar Pagi, Pasar Agro Holtikultura, dan Pasar Glendoh.
Namun, sayangnya, ketiganya hanya memiliki satu jalur utama sebagai akses keluar-masuk.
Tanpa penataan yang tepat, kondisi ini jelas membuat aktivitas pasar menjadi tidak efisien dan rawan konflik antar pedagang.
Edi Cahyono, Ketua Paguyuban Pasar Glendoh, menyampaikan keresahannya terhadap situasi pasar yang makin semrawut. Ia menilai, tanpa adanya penataan parkir dan pengaturan lalu lintas, persoalan ini bisa makin memburuk.
“Kalau tidak ditata jalannya, parkirnya, maka akan lebih sulit lagi,” tegas Edi.
Tak hanya soal parkir liar, kapasitas pasar juga tidak sebanding dengan jumlah pedagang dan kendaraan yang masuk setiap hari.
Banyak pedagang memilih berjualan dari atas mobil karena tidak mendapatkan tempat di dalam pasar.
Nilai Ekonomi Besar, Tapi Sarana Minim
Ironisnya, meskipun sarana dan prasarana masih memprihatinkan, Pasar Agro Purwodadi menyumbang nilai perputaran uang yang luar biasa besar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Grobogan, Pradana Setyawan, menyebut bahwa transaksi harian di pasar ini bisa mencapai Rp200–300 miliar per hari.
Ini mencerminkan tingginya potensi ekonomi pasar tersebut yang seharusnya dibarengi dengan fasilitas memadai.
Pradana mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan lahan khusus untuk parkir di sisi utara pasar. Namun, langkah ini belum dapat direalisasikan lantaran terkendala anggaran.
“Semua sudah disiapkan, tinggal menunggu anggaran saja,” kata Pradana.
Pihak Disperindag pun tengah menyusun rencana revitalisasi pasar, termasuk penataan akses jalan dan pengelolaan parkir agar tidak mengganggu jalur distribusi barang.
Anggaran Menunggu, Revitalisasi Tertunda
Dari sisi perencanaan, Kabid Perencanaan dan Pengendalian Bappeda Grobogan, Adityawarman, meminta Disperindag segera memasukkan program revitalisasi pasar ke dalam daftar usulan.
Jika belum masuk di Berita Acara Perencanaan (BAP), maka bisa diajukan untuk anggaran tahun 2026, atau bila memungkinkan disisipkan dalam Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD-P) 2025.
“Kalau belum, nanti kami masukkan di berita acara supaya bisa masuk ke 2026,” ujarnya.
Langkah ini menjadi angin segar bagi para pedagang dan pengunjung yang sudah lama menanti pembenahan fasilitas pasar.
Penataan parkir dan perbaikan jalan dinilai sebagai solusi paling krusial untuk mengurai kemacetan dan meningkatkan kenyamanan bertransaksi.
Baca Juga: Eksportir Briket Arang di Grobogan Keluhkan Hambatan Logistik, Ada Apa?
Update Terbaru: Potensi Masuk Program Prioritas Daerah
Berdasarkan informasi yang dihimpun terbaru dari lingkungan Pemkab Grobogan, revitalisasi Pasar Agro akan dipertimbangkan masuk ke dalam program prioritas daerah tahun anggaran 2026.
Saat ini, tim teknis Disperindag dan Bappeda tengah melakukan verifikasi kebutuhan riil di lapangan, termasuk estimasi biaya pembangunan parkir, perbaikan jalan, dan pelebaran akses utama.
Sementara itu, masyarakat dan pedagang berharap pemerintah tidak menunggu terlalu lama.
Pasalnya, kerugian akibat kemacetan, keterlambatan distribusi barang, hingga potensi konflik antar pedagang bisa menurunkan daya tarik pasar secara keseluruhan.
Kesimpulan: Pasar Ramai, Tapi Akses Menyempit
Pasar Agro Purwodadi seakan tumbuh liar tanpa kendali. Kendaraan yang berubah jadi lapak, parkir sembarangan, dan infrastruktur minim menjadikan wajah pasar jauh dari kata layak.
Padahal, potensi ekonomi pasar ini sangat besar dan bisa menjadi contoh pasar rakyat modern jika ditata serius.
Pemerintah daerah didesak untuk bergerak cepat, bukan hanya menyiapkan rencana, tapi segera mengeksekusi revitalisasi secara bertahap.
Jika tidak, Pasar Agro hanya akan jadi pasar miliaran yang macet dan semrawut tiap hari. (int)
Editor : Mahendra Aditya