GROBOGAN - Pengusaha briket arang di Kabupaten Grobogan mengeluhkan kenaikan biaya logistik yang berdampak pada kegiatan ekspor mereka.
Meskipun kebijakan tarif baru impor dari pemerintah Amerika Serikat belum berdampak langsung, mereka tetap mencermati setiap perubahan kebijakan perdagangan Internasional.
Menurut Delegasi CV Selaras Indo Global, Hardiyan Tri Wijayanto mengatakan, perusahaan mereka belum merasakan dampak langsung dari kebijakan tarif baru AS karena fokus utama ekspor mereka masih berada di wilayah Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Latin.
Namun, mereka tetap mempersiapkan diri untuk kemungkinan perluasan pasar ke AS di masa depan.
"Karena tidak menutup kemungkinan ke depannya kami akan memperluas pasar ke sana. Kebijakan tarif yang lebih tinggi tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku ekspor, terutama dalam hal daya saing harga produk di pasar tujuan," ungkap Hardiyan.
Untuk mengantisipasi perubahan regulasi global, CV Selaras Indo Global melakukan diversifikasi pasar ekspor dan menjalin kerja sama strategis dengan mitra dagang di berbagai negara yang memiliki hubungan dagang stabil dengan Indonesia.
Mereka juga fokus pada peningkatan efisiensi produksi dan penguatan nilai tambah produk agar tetap kompetitif.
Diketahui, selama ini, CV Selaras Indo Global mampu mengekspor sekitar 10-15 kontainer per bulan, dengan rata-rata 18 ton per kontainer.
Harga briket arang mengalami kenaikan sekitar 2-5 persen dibanding tahun sebelumnya karena kenaikan biaya bahan baku dan logistik.
"Tergantung pada spesifikasi produk dan negara tujuan. Namun kami tetap berupaya menjaga agar harga tetap kompetitif di pasar," jelas Hardiyan.
Di awal tahun ini, eksportir briket arang menghadapi tantangan seperti kenaikan biaya logistik, keterbatasan kontainer, dan fluktuasi harga bahan baku kelapa yang sempat naik di awal 2025.
Namun, mereka tetap beradaptasi dan menjaga kualitas agar tetap kompetitif di pasar Internasional. (Int)
Editor : Mahendra Aditya