GROBOGAN - Pasar hewan Kunden Wirosari yang diklaim menjadi pasar hewan terbesar se-Jawa Tengah ini memiliki kondisi yang memprihatinkan.
Meski begitu tahun ini hanya bisa memperbaiki bangunan gedung kantor.
Kepala Disperindag Grobogan Pradana Setyawan beserta Sekretaris Sigit Adiwibowo dan Kepala UPTD pasar hewan meninjau langsung kondisi pasar hewan Kunden.
Selain melakukan monitoring terkait penyakit mulut dan kuku (PMK) dengan memperketat protokol kesehatan (prokes). Mereka turut mengecek kondisi bangunan pasar.
"Kondisi yang perlu diperbaiki masih cukup banyak. Karena kami juga turut menyiapkan detail engineering design (DED) untuk revitalisasi pasar dengan estimasi anggaran mencapai Rp 27 miliar," ungkap Kepala Disperindag Pradana Setyawan.
Kondisi yang menurutnya butuh perbaikan segera antaranya pagar pembatas yang ambruk baru-baru ini, landasan bladok dan tambatan memiliki kondisi lapuk, lantai dan penataan sarana pendukung lainnya seperti kios. Serta pavingisasi pada bagian depan.
"Sudah kami usulkan ke pusat untuk pembangunan tapi anggaran belum didapat," imbuhnya.
Sedangkan Sekretaris Disperindag Grobogan Sigit Ariwibowo menambahkan tahun ini Pasar Kunden mendapatkan Rp 197 juta melalui APBD Grobogan.
Dana tersebut dipakai untuk perbaikan bangun kantor dan fasilitas pendukung.
Pihaknya berharap, dengan keberadaan pasar hewan tertua yang berdiri sejak 1982 ini mulai diperhatikan Pemkab Grobogan.
Bahkan, diharapkan bisa menjadi ikon di Kabupaten Grobogan. Karena di pasar tersebut kerap setiap Kliwon didatangi hewan ternak mencapai 800-an ekor.
"Pedagang yang datang pun dari berbagai daerah, ada yang Jawa Timur hingga Sumatera (luar Jawa)," imbuhnya.
Menurutnya, berbagai fasilitas mulai butuh diperbaiki karena sudah tak layak. Kondisi pasar yang sempit hingga di pinggir jalan juga kerap menuai kemacetan jalan.
”Harus mulai ditata, sayang kalau dibiarkan. Padahal kami sudah punya pasar hewan terbesar. Namun, anggaran perawatan yang didapat selalu minim,” ungkapnya.
Sedangkan salah satu pedagang, Padi, mengaku kerap kebanjiran saat musim hujan.
"Saluran airnya kurang tertata, malah pada jebol dan ada warung yang malah menutup drainase dan mendirikan bangunan permanen.
Jadi setiap musim hujan pasti pintu tengah ini banjir. Kalau ke depan dilakukan penataan, saya yang juga membuka lapak semi permanen di depan pasar bersiap untuk pindah," ungkap Padi. (Int)
Editor : Mahendra Aditya