Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Banjir di Grobogan Capai Setinggi Dada, Satu Keluarga Bertahan di Pengungsian, Begini Kondisinya

Intan Maylani • Selasa, 21 Januari 2025 | 21:14 WIB
EVAKUASI: Sebanyak 44 warga Perumahan Permata Hijau, Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi, terpaksa dievakuasi akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.
EVAKUASI: Sebanyak 44 warga Perumahan Permata Hijau, Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi, terpaksa dievakuasi akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.

GROBOGAN – Sebanyak 44 warga Perumahan Permata Hijau, Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi, terpaksa dievakuasi akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.

Luapan Sungai Lusi menyebabkan air merendam rumah-rumah hingga setinggi dada sejak Senin (20/1) malam.

Evakuasi dimulai sekitar pukul 23.00 WIB, dengan para warga dipindahkan ke Gedung Serba Guna Desa Ngraji.

Namun, hingga Selasa (21/1), hanya tersisa satu keluarga yang masih bertahan di posko pengungsian.

"Saat ini hanya tersisa satu keluarga yang terdiri dari lima jiwa, termasuk dua balita dan seorang disabilitas," ujar Budi, perwakilan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana.

Nur Aliya (42), salah satu pengungsi yang masih bertahan, mengaku ini adalah banjir terparah yang pernah dialaminya.

"Tahun lalu air hanya setinggi bawah lutut. Kali ini sampai setinggi dada. Awalnya hanya anak-anak dan suami yang dievakuasi, tapi air terus naik, jadi saya ikut menyusul," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Dia menceritakan hanya sempat menyelamatkan gawai dan dompet.

"Barang-barang lain tidak sempat saya pikirkan," imbuhnya.

Saat ini, Nur Aliya bersama suami dan tiga anaknya masih bertahan di pengungsian, bingung kapan bisa kembali ke rumah.

Kepala Desa Ngraji, Yahmo, menyatakan pihaknya telah menyiapkan Gedung Serba Guna sebagai tempat pengungsian.

"Gedung ini sebelumnya hanya digunakan untuk kegiatan warga, tapi sekarang difungsikan untuk evakuasi. Fasilitasnya memadai, ada kamar mandi dan ruang salat," ujarnya.

Selain itu, dapur umum langsung didirikan di balai desa untuk memastikan kebutuhan makanan para pengungsi terpenuhi.

"Kami menyediakan 2.000 bungkus nasi setiap pagi dan sore untuk mereka," tambah Yahmo.

Selain Gedung Serba Guna Desa Ngraji, dua lokasi lain disiapkan untuk pengungsi, yakni Balai Desa Kalongan dan aula BPBD Grobogan.

Namun, Balai Desa Kalongan tidak menerima pengungsi, sementara aula BPBD hanya menampung sembilan jiwa.

Banjir ini menjadi pengingat akan perlunya penanganan jangka panjang untuk mencegah luapan Sungai Lusi yang terus mengancam warga.

"Kami akan terus memantau kondisi dan memastikan bantuan diberikan tepatwaktu," tutup Yahmo. (int/khim)

Editor : Abdul Rokhim
#grobogan #banjir #purwodadi #sungai lusi #banjir grobogan