GROBOGAN – Satu-satunya perajin kue keranjang di Kabupaten Grobogan, Toko Idjo, kini tengah menghadapi tantangan besar akibat lonjakan harga bahan baku.
Berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa No. 15, Wirosari, usaha keluarga yang telah berdiri sejak 1965 ini mulai kebanjiran pesanan menjelang perayaan Imlek.
Namun, kenaikan harga bahan baku memaksa mereka memutar otak untuk tetap memenuhi permintaan.
Kristin, generasi ketiga penerus Toko Idjo, mengungkapkan bahwa pihaknya memulai produksi lebih awal tahun ini, sejak sebelum Natal 2024, untuk mengejar stok di swalayan hingga perayaan Cap Go Meh.
“Natal itu swalayan ramai, jadi kami berusaha mengisi stok lebih dulu. Kali saja banyak yang mencari,” ujar Kristin, Jumat (12/1).
Menurut Kristin, lonjakan harga bahan baku menjadi tantangan utama.
Harga jual kue keranjang terpaksa naik dari Rp 45 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilogram.
“Biasanya kenaikan hanya Rp 1-2 ribu, tapi tahun ini naik Rp 5 ribu. Ketan dan gula, terutama, naik signifikan,” jelasnya.
Tahun ini, Toko Idjo memproduksi sekitar 2 ton ketan, dengan kapasitas harian antara 100-250 kilogram.
Proses produksi dimulai pukul 04.00 WIB hingga selesai sekitar pukul 13.00 WIB.
“Kami sekarang lebih pagi mulai produksinya,” tambah Kristin.
Untuk variasi rasa, Kristin menyebutkan pihaknya hanya memproduksi lima varian, yakni cokelat, vanili, pandan, prambors, dan gula aren.
Namun, varian durian ditiadakan karena durian belum memasuki musim panen. Varian pandan dan cokelat menjadi favorit pelanggan, terutama karena penggunaan bahan alami.
“Daun suji yang kami tanam sendiri di pekarangan belakang rumah digunakan untuk memberi warna hijau alami pada pandan,” ungkap Kristin.
Meski tanpa pengawet, kue keranjang ini dapat bertahan hingga satu tahun jika disimpan dalam lemari pendingin.
Untuk suhu ruangan, daya tahannya sekitar satu bulan.
Produk ini telah didistribusikan ke berbagai kota, seperti Surabaya, Malang, Semarang, Kudus, Jepara, Solo, dan Temanggung.
Di Grobogan sendiri, kue keranjang Toko Idjo dapat ditemukan di beberapa toko dan swalayan, seperti Luwes Pasar Raya dan Toko Roti Dewi.
Dengan tantangan harga bahan baku yang terus meningkat, Kristin berharap dapat terus melestarikan tradisi pembuatan kue keranjang sekaligus mempertahankan kepercayaan pelanggan yang sudah terbangun selama hampir enam dekade. (Int/khim)
Editor : Abdul Rokhim