GROBOGAN – Fenomena gas rawa yang muncul di bekas pembuatan sumur bor gagal di Desa Mlilir, Kecamatan Gubug, menarik perhatian warga setempat.
Meski sempat padam akibat genangan air hujan, gas tersebut kembali menyala setelah disulut api.
Marjo, salah satu warga Desa Mlilir, menjelaskan bahwa gas rawa padam pada Senin (18/11) malam akibat hujan deras yang menyebabkan lokasi semburan tergenang air.
"Hujan deras semalaman membuat genangan air di sekitar semburan gas. Gasnya sempat mati, tapi setelah terang dan disulut api lagi, gasnya bisa menyala," ungkap Marjo, Selasa (19/11).
Meski memiliki potensi besar, hingga saat ini warga maupun pemerintah desa belum memanfaatkan gas rawa tersebut untuk keperluan sehari-hari seperti memasak.
Marjo menyebutkan bahwa lokasi semburan sering dikunjungi anak-anak sekolah, sehingga dikhawatirkan membahayakan jika tidak diawasi.
"Kalau nggak diawasi, bisa bahaya. Apalagi desa belum ada rencana untuk memanfaatkan gas ini. Jadi dibiarkan mati saja dulu," tambahnya.
Plt Kepala Cabang Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan, Sinung Sugeng Arianto, menilai gas rawa di Mlilir memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan.
Menurutnya, fenomena ini serupa dengan gas rawa di Desa Tinanding, Mrapen, dan Rajek di Kecamatan Godong, yang telah digunakan warga untuk kebutuhan memasak selama bertahun-tahun.
"Di beberapa desa itu, warga sudah memanfaatkan gas rawa untuk memasak, bahkan ada yang sampai 27 tahun tidak membeli gas elpiji. Potensinya besar jika dimanfaatkan," kata Sinung.
Namun, Sinung menegaskan bahwa keputusan memanfaatkan atau tidak gas rawa sepenuhnya ada di tangan pemerintah desa.
"Kalau desa ingin memanfaatkan, bisa dilakukan kajian lebih lanjut oleh tim energi baru terbarukan (EBT). Tapi sementara ini, jika mau ditutup atau dibiarkan dulu, itu tergantung keputusan desa," tambahnya.
Sinung menjelaskan, gas rawa sempat padam kemungkinan karena banjir yang menyumbat aliran gas.
Meski begitu, potensi gas tersebut tetap ada dan dapat dinyalakan kembali jika genangan air surut.
Laporan terkait fenomena gas rawa di Mlilir telah disampaikan ke pihak EBT.
Kajian lebih lanjut akan dilakukan jika warga atau pemerintah desa memutuskan untuk memanfaatkan gas tersebut di masa mendatang.
"Jika suatu saat desa ingin memanfaatkan, EBT siap mendukung dengan kajian dan pendampingan," tutup Sinung. (int/khim)
Editor : Abdul Rokhim