GROBOGAN - Pada Minggu (17/11), warga Desa Mlilir Kecamatan Gubug sempat digegerkan munculnya fenomena alam semburan api gas rawa. Keberadaan gas rawa tersebut di bekas pengeboran sumur di depan Balai Desa Mlilir.
Senin (18), Cabang Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan sempat melakukan pengecekan ke lokasi semburan api.
Diketahui jika munculnya semburan itu karena sempat adanya pembuatan sumur bor yang gagal di kedalaman 100 meter. Melihat semburan apinya cukup besar, warga sempat mengusulkan untuk bisa dimanfaatkan.
Plt Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Sinung Sugeng Arianto mengungkapkan, saat itu sempat akan dilakukan studi detail. Cabang Dinas ESDM sempat melakukan laporan ke energi baru terbarukan (EBT) terkait pemanfaatannya.
"Jadi kami laporkan dulu ke EBT, karena masih berkaitan dengan manifes gas di Tinanding, Mrapen, Rajek dan sekitarnya," jelas Sinung.
Pihaknya meminta lokasi munculnya gas rawa tersebut untuk dibuka dan dibakar. Dimaksud agar tahu ketahanan (RED, munculnya gas rawa) lama atau tidaknya.
"Kalau sampai bertahan berbulan-bulan ya berarti layak dikembangkan. Karena kadang gasnya menempati kantung-kantung gas dan lapisan tanah dangkal saat ada retakan atau terbuka. Karena dibor makka gas mengalir keluar. Namun ketika isi kantung gas habis, akhirnya apinya padam," jelasnya.
Menurutnya, munculnya gas ini terbentuk dari aktivitas biogenic atau bakteri yang kemudian komposisi dari jasad renik maupun tumbuh-tumbuhan di masa lalu. Kemudian terbentuklah gas rawa ini.
"Dan gas rawa ini sifatnya dangkal dan temporary. Jadi bisa suatu saat kemudian padam," imbuhnya.
Ternyata tak bertahan lama, gas rawa yang muncul di Balai Desa Mlilir padam pada Senin (18/11) Malam. "Makanya kemarin saya minta untuk dibuka dan bakar tersebut. Untuk mengetahui ketahanan gas rawa tersebut," paparnya. (Int)
Editor : Abdul Rokhim