Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kabar Buruk, Kasus Gizi Buruk di Grobogan Masih Tinggi, Pemkab Grobogan Door to Door ke Desa

Intan Maylani • Selasa, 10 September 2024 | 17:43 WIB

PELACAKAN: Dinkes Grobogan saat jemput bola melacak anak-anak dengan gizi buruk di Kecamatan Brati, Grobogan.
PELACAKAN: Dinkes Grobogan saat jemput bola melacak anak-anak dengan gizi buruk di Kecamatan Brati, Grobogan.

GROBOGAN - Kasus gizi buruk masih cukup tinggi di Kabupaten Grobogan, terdata ada 147 kasus dari Januari-Juli 2024. Paling banyak ditemukan di wilayah Kecamatan Brati,  di atas lima kasus.

Plt Subkoordinator Gizi Remaja dan Usila Dinkes Grobogan Rumia Magdalena mengatakan, petugas puskesmas hingga Dinkes terus melakukan pelacakan anak-anak dengan gizi buruk. Ternyata wilayah Brati memiliki kasus gizi buruk cukup banyak.

“Ini ada lebih dari lima kasus. Kemarin kami pelacakan di Desa Temon dan Menduran. Di sana terdapat anak usia 15 bulan dengan berat badan (BB) 4,6 kg serta 4,9 kg,” jelasnya.

 Baca Juga: SOSOK Kartika Dewi Luthfiani Pengajar asal Grobogan Kini Jadi Mentor di Ruangguru

Setelah melakukan pelacakan jemput bola, rata-rata mereka kedapatan dari kalangan prasejahtera. Tak hanya mengalami gizi buruk, para balita tersebut juga memiliki penyakit penyerta seperti bronkopneumonia dan down syndrome.

“Memang hampir semuanya memiliki kondisi prasejahtera, ya. Masalahnya mereka nggak punya BPJS. Makanya kami bantu cari solusi agar bisa dirujuk ke rumah sakit (RS). Kami upayakan menggunakan bantuan sosial (bansos),” ujarnya.

 Baca Juga: Tak Butuh lama! Usai Amankan Tiga Pengedar, Polisi Berhasil Bekuk Pemasok Sabu di Gubug Grobogan, Ini Dia Tampangnya, Anda Kenal?  

Dinkes juga menggandeng perangkat desa seperti kades untuk ikut turun membantu warganya.  “Ini didampingi pak kades untuk mengurus itu (Bansos, Red), supaya mau dibawa ke RS. Karena mereka masuknya keluarga prasejahtera, tentunya mereka juga butuh uang lebih untuk wara-wiri ke RS,” jelasnya.

Selama ini, dalam menggenjot kenaikan BB petugas kesehatan telah mengupayakan pemberian makanan tambahan (PMT) sesuai standar gizi dengan berbasis lokal. Kemudian pemberian susu atas rekomendasi dokter dan multivitamin serta pemberian olahan kebutuhan medis khusus (PKMK).

 Baca Juga: Membahayakan, Jembatan di Jatiharjo Grobogan Nyaris Roboh, Tak Dapat Dilalui Roda Empat

“Setelah ada pendampingan selama 60 hari oleh petugas kesehatan. Kami sarankan dirujuk dibawa ke RS. Karena butuh penanganan dokter spesialis anak (Spa). Maka akan lebih enak dikonsulkan langsung ke spesialisnya, imbuhnya.

Menurutnya, dalam penekanan kasus gizi buruk ini. Tahun ini digenjot melalui anggaran Banprov dan BOK per puskemas Rp 100 juta. Nantinya untuk ketersediaan PMT dan pangan olahan PDK. Serta mendapat bantuan dari CSR (Baznas) pada akhir bulan ini senilai Rp 125 juta untuk intervensi dengan pemberian PDK.

 Baca Juga: Sosok Berliana Anidayati Asal Grobogan yang Tertarik Jadi Relawan PMI karena Terpanggil Tangani Korban Kecelakaan

“Kami harap dengan bantuan ini mampu menekan kasus malnutrisi di Kabupaten Grobogan,” pungkasnya. (int)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#kesehatan #grobogan #stunting #gizi buruk