Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Atasi Kekeringan di Grobogan, Pemerintah Pusat Kucurkan Dana Tambahan Rp 200 Juta, Ini Peruntukannya

Sirojul Munir • Senin, 12 Agustus 2024 | 16:27 WIB

DROPPING AIR: Warga Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo berbondong-bondong mengambil bantuan air bersih dari BPBD Grobogan dan asosiasi wartawan setempat baru-baru ini.
DROPPING AIR: Warga Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo berbondong-bondong mengambil bantuan air bersih dari BPBD Grobogan dan asosiasi wartawan setempat baru-baru ini.



GROBOGAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mendapatkan tambahan anggaran Rp 200 juta untuk mengatasi bencana kekeringan. Bantuan tersebut berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

”Anggaran bantuan untuk dropping air bersih dari APBD Grobogan Rp 200 juta untuk tahun ini dan ditambahan BNPB Rp 200 juta. Total ada anggaran Rp 400 juta untuk anggaran bantuan atasi kekeringan,” kata Kepala BPBD Grobogan Endang Sulistyoning usai memberikan bantuan air bersih bersama PWI Grobogan di Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon.

Bantuan dropping air bersih di Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon ada tiga tangki truk air. Warga yang mendapatkan air bersih sangat antusias untuk mengambil air untuk digunakan kebutuhan sehari-hari.

”Sampai saat yang rawan kekeringan ada 53 Desa di 9 Kecamatan. Yang sudah di distribusikan air bersih sudah 47 Desa di delapan Kecamatan,” ujarnya.

Dari yang disalurkan ke 47 Desa sudah ada 109 tangki air yang disalurkan Pemkab Grobogan.

Bantuan juga diberikan peralatan dari BNPB untuk kebakaran hutan. Kemudian bantuan 25 toren air dengan kapasitas 5.500 liter.

”Selain air bersih juga bantu toren untuk jaringan air ke rumah warga,”terang dia.
Kepala Desa Pojok Nurhayati mengaku, bahwa semua warga Desa Pojok alami kekeringan. Ketika masuk kemarau panjang kebutuhan air dengan membeli. Termasuk untuk merawat tanaman di sawah.

”Karena sumber air tidak mencukupi,” kata dia.

Warga membeli air bersih satu tangki harga Rp 60 ribu. Air itu, digunakan satu KK hanya cukup digunakan satu pekan. Bencana kekeringan sudah berlangsung selama dua bulan terakhir mulai Juli lalu.

”Bulan Juli kemarin warga sudah membeli air. Ketika kemarau panjang tidak hujan maka warga sudah membeli.,” ujarnya.

Usaha untuk mendapatkan sumber mata air dilakukan pihak Desa. Hanya saja ketika melakukan pengeboran dengan program Pamsimas air yang keluar payau dan tidak bisa digunakan untuk warga.

”Bantuan air bersih sangat terbantu bisa mengurangi dan bisa dimanfaatkan,” terang dia.

Dheni salah satu warga mengaku senang adanya bantuan dropping air bersih. Bantuan tersebut sangat bermanfaat dan bisa dimanfaatkan warga untuk menampung air sementara dan tidak beli lagi dalam waktu dekat.

”Bantuan air bersih sangat kami butuhkan dari warga. Sumur kami sudah kering tidak ada airnya maka kami beli air bersih ketika tidak ada air,” tandasnya. (mun/him)

Editor : Abdul Rokhim
#grobogan #kekeringan #bpbd grobogan #Bencana kekeringan