GROBOGAN - Dinkes Grobogan terus berupaya menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Kali ini dengan mengajak 30 dokter umum puskesmas untuk pelatihan ultrasonografi (USG).
Kabid Kesmas Dinkes Grobogan dr Wahyu Tri Haryadi mengatakan, AKI dan AKB menjadi indikator penting untuk menentukan derajat kesehatan.
Di rahim para ibulah generasi penerus ini lahir.
“Pelatihan ini dilakukan secara bertahap. Melalui ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dokter dalam pelayanan antenatal, persalinan dan pelayanan masa nifas bagi ibu," ujar dr Wahyu.
"Pelatihan tersebut dilakukan dengan metode Blended Learning yang menggabungkan online learning dengan on the job,” jelasnya.
Tak hanya itu, melalui pelatihan USG tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dokter dalam melakukan deteksi dini penyulit medis obstetric dan non obstetri yang terjadi pada kehamilan, persalinan dan masa nifas.
”Selain itu juga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mereka dalam USG skrining obstetri sesuai kewenangan di fasilitas kesehatan tingkat pertama,” tegasnya.
Terlebih saat ini seluruh puskesmas di Kabupaten Grobogan telah memperoleh satu unit USG portable 2D baru.
Maka menjadi tanggungjawab puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan kehamilan yang lebih baik dan akurat kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dibimbing dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi dr Rizky Aditya Bahrudin.
Dengan pengalaman dan pengetahuannya, dr Rizky turut berperan penting dalam menjadikan pelatihan ini sukses.
”Kalau di 28 minggu mengetahui ada kelainan, langsung dirujuk saja. Kemudian rekan-rekan juga harus tahu pada 32-33 minggu posisi janin harus normal, kalau bayi sungsang dan besar sebaiknya dirujuk secara terencana,” jelasnya.
Selama pelatihan, para dokter umum tersebut juga dilatih mendeteksi kelainan kongenital.
Dengan harapan dengan temuan penyulit medis obstetri dan non obstetri secara holistic bisa berkolaborasi dengan dokter spesialis di faskes rujukan tingkat lanjut (FKRTL). (int)
Editor : Ali Mustofa