GROBOGAN - Menjadi seorang atlet telah menjadi cita-cita bagi Dyah Puspitasari sejak belia.
Hal itu kian menguat seiring dengan pergumulannya dalam beladiri karate.
Dyah mulai tanding saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Giat itu terus berlanjut hingga mengantarkannya kepada pengalaman yang membanggakan, dapat menorehkan prestasi dalam kaliber SEA Games.
Lewat sasana atau dojo yang dibina bersama suami, Dyah terus mengembangkan potensi dan capaian putra-putri daerah Grobogan agar dapat terus menyumbangkan prestasi.
Radar Kudus akan akan menunjukkan lebih dekat sosok Dyah Puspitasari, atlet daerah yang menembus kancah internasional.
'Tanpa pelatih yang hebat tidak ada atlet yang luar biasa.'
Kalimat tersebut menjadi ungkapan pembuka saat Dyah Puspitasari menceritakan mengenai prestasi yang telah ia raih.
Menurutnya, tanpa latihan keras dan bimbingan dari pelatih tidak akan mengantarkannya pada sederet tinta emas dalam hidupnya.
Perempuan kelahiran Grobogan, 3 Juli 1983 itu mengawali karir keatlitannya dalam dunia seni beladiri sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.
Dari pendidikan yang ia dapatkan dari keluarga, menjadi seorang perempuan tak harus bersikap geleng, angguk dan anggun belaka.
Namun menurutnya menjadi pribadi yang tangguh ialah hal yang wajib.
"Suka dengan beladiri karena dari kecil berada di lingkungan tersebut. Kemudian bertemu dengan pelatih karate, Sensei Alex yang kemudian menjadi suami. Saya menikah tahun 2012," tuturnya Minggu, (29/4).
Daftar prestasi Dyah mulai lingkup daerah meliputi peraihan emas pada Porprov 2001 di Semarang (cabor karate).
Selain itu, ia juga menorehkan emas pada ajang Porprov 2009 di Surakarta (karate), emas pada Porprov 2013 di Banyumas (karate).
Serta emas pada Porprov 2018 di Surakarta (Yongmoodo) dan perolehan emas Porprov 2023 Pati Raya (Juijutsu).
Sementara untuk prestasi tingkat nasional meliputi Kerjunas Piala KASAD di Jakarta tahun 2009 dengan peraihan perak dan perunggu.
Kejurnas Piala KASAD di Surabaya tahun 2010 dengan perolehan emas.
Kejurnas Oesman Sapta Odang (OSO) Cup di Bekasi tahun 2011 dengan peraihan emas dan terbaik dari yang terbaik.
Serta Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau XVIII tahun 2012 dengan perolehan perak.
Kemudian prestasi pada kancah internasional pada ajang Asia Pasifik Shindoka Karate Federation (APSKF) tahun 2010 dengan perolehan dua emas dan satu perunggu.
Perolehan emas pada Indonesia Open Karate Championship tahun 2011.
Perolehan perunggu pada Kyiv Open Ukraina tahun 2011 serta perolehan perak pada Sea Games di Jakarta-Palembang tahun 2011.
Tak tanggung-tanggung, ibu dari dua anak tersebut juga pernah menjadi asisten pelatih PON XIX 2016 di Jawa Barat.
Serta menjadi pelatih PON XX 2021 di Papua.
Dyah saat ini aktif sebagai pelatih sasana atau dojo di Bushido di Jalan Banyuwono I nomor 72 RT 3 RW 17.
Serta sebagai staf Bapenda Provinsi Jawa Tengah Unit Pengelolaan Pendapatan Daerah (UPPD) Kabupaten Grobogan di Samsat Grobogan.
"Saya bersama suami ingin mengembangkan beladiri di Kabupaten Grobogan lewat anak-anak di sasana atau dojo yang kami bina. Karena penyumbang medali terbanyak Porprov untuk di sini dari cabor-cabor beladiri," ujarnya.
Hingga saat ini sasana/dojo yang dibina meliputi cabor beladiri karate, wushu, kick boxing, muaythai, dan jujitsu.
"Andaikata setiap orang memiliki motivasi yang sama, barangkali akan lebih banyak yang mendapat juara. Di sasana kami yang sudah dirintis sejak 2002 dengan menerapkan kurikulum pada setiap cabor terbukti dapat membuahkan hasil. Di Porprov Pati Raya 2023 selain saya, sasana juga menyumbang 7 emas dari berbagai cabor," bebernya.
Meski telah mengalami pengapuran di tiga titik (lutut dan betis) namun pada usia yang sudah tak lagi muda ini, Dyah masih memiliki semangat yang tinggi untuk membesarkan dunia beladiri di Grobogan.
"Sebetulnya ini sudah hendak menutup masa keatletan. Tapi kalau nanti ada cabor yang masih terjangkau usia saya, tetap akan lanjut. Sedangkan sebagai pelatih saya berkewajiban untuk terus memompa semangat anak-anak binaan," singkatnya.(*)
Editor : Dzikrina Abdillah