'Jogja Istimewa' Jadi Branding Baru Yogyakarta, Gantikan ...
GROBOGAN - Tagline "Grobogan Bumi Ki Ageng" muncul dalam perbincangan masyarakat.
Bahasan itu terjadi akibat adanya ketidakcocokan yang dirasakan oleh para tokoh masyarakat Grobogan dengan julukan "Purwodadi Kota Swike" yang dianggap kurang pantas.
Salah satu pimpinan Ponpes The Bahrul Qur'aan, Muhammad Hidayatulloh, 49, menyampaikan keresahannya terkait dengan julukan yang selama ini dikenal oleh khalayak luas.
"Kita ini tidak kekurangan tokoh dan sejarah. Dari ujung timur hingga barat wilayah Grobogan juga banyak tokoh besar. Mengapa yang terkenal malah Purwodadi Kota Swike?" tuturnya.
Tak tanggung-tanggung pihaknya sedang berupaya mengumpulkan 100 kiai maupun tokoh masyarakat dari Grobogan untuk mematangkan tagline baru.
"Kami juga sedang berziarah dari makam ke makam bertanya kepada para juru kunci dan tokoh kunci untuk menelisik sejarah dan riwayat dari para pembesar wilayah di sini. Baru akan kami diskusikan bersama dengan dinas terkait," tambahnya.
Budayawan muda sekaligus pelestari Candi Joglo Semar Purwodadi, Muhadi, 43, atau yang biasa disebut Mpu Gandrung juga angkat bicara mengenai tagline Kabupaten Grobogan.
Menurutnya apabila berhasil, narasi "Grobogan Kota atau Bumi Ki Ageng" amat klop dan pantas disandang sebab mengakar baik secara sejarah maupun sosiologi.
Makna dari "Ki Ageng" sendiri lanjut Mpu Gandrung, merujuk kepada para tokoh yang dulu ada di Kabupaten Grobongan.
Sementara nama "Ki Ageng" disandang oleh para tokoh tersebut karena sudah mbahurekso dan meneladankan sikap dan laku yang luhur.
"Ada Ki Ageng Getas Pendowo, Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Lembu Peteng, dan tokoh besar lainnya," terangnya.
Mpu Gandrung mengatakan rekonstruksi sebutan kota itu secara tidak langsung dapat mengedukasi masyarakat serta dapat membangkitkan kesadaran akan sejarah.
Tak hanya itu, sebelumnya pihaknya juga telah melombakan tagline Grobogan Bumi Ki Ageng beserta logo dan filosofinya di tahun 2023 dalam event yang diadakan oleh pemkab.
Namun belum masuk nominasi.
"Dari tokoh inilah kemudian melahirkan para raja-raja Jawa di Kesultanan Mataram, yang kemudian menjadi Kesultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta," bebernya.
Sementara itu, pemerhati sejarah Grobogan, Heru Hardono, 70, menyampaikan pandangan tersebut mengandung arti yang luas serta menyiratkan sebuah kejayaan di masa lalu.
"Memang ini hanya sekadar masalah penamaan. Namun, di sisi lain memang perlu diangkat tokoh-tokoh di bumi Grobogan pada masa lalu ini," tandasnya. (fik/war)
Editor : Ali Mustofa