GROBOGAN – Sudah sejak 2012 Abdul Aziz, warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, tak bergantung pada elpji.
Untuk keperluan memasak sehari-hari, dia menggunakan gas alam yang telah dibuatkan saluran pipa PVC dan terhubung langsung dengan kompor.
”Awalnya dulu tidak sengaja. Niatnya mau bikin sumur bor yang keluar bukan air, tapi malah gas," kata Aziz pada Senin (1/4).
Kemudian dia berpikir agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Sebab, semburan gasnya cukup deras.
”Eman-eman (sayang) jika tidak dimanfaatkan," ujarnya.
Hal tersebut kian berkembang usai dilakukan penelitian oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) pada 2013 lalu.
Dari hasil penelitian itu, disebutkan kandungan gas alam yang terpendam di bawah Desa Rajek amat melimpah.
Adanya sumber gas alam yang masyarakat setempat sebut sebagai ”gas rawa” itu, juga berkaitan dengan adanya Api Abadi Mrapen.
Sebab, jarak antara temuan sumber gas itu dengan Api Abadi Mrapen hanya 5 kilometer.
Selain Aziz, Muslim, warga lain juga menyampaikan, setelah rumahnya terhubung dengan instalasi gas rawa pada 2017 hingga saat ini, dia sekeluarga tidak bergantung pada gas tabung melon atau elpiji 3 kg.
”Ya sehari-hari menggunakan gas alam ini. Kompornya sudah dimodifikasi, sehingga dapat digunakan dengan baik," ujarnya.
Tekanan gas yang dihasilkan pun stabil, sehingga panas api yang digunakan untuk memasak tak kalah dengan gas tabung pada umumnya.
”Untuk masak air misalnya, hanya selisih 3-5 menit dengan elpiji," ungkapnya.
Menurut pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Rajek Sarmadi, gas rawa tersebut tak lain gas alam yang berada di kedalaman 30-40 meter yang terbentuk dari fosil hewan dan tumbuhan.
Saat wartawan meninjau di lokasi, sudah terdapat tabung dengan ukuran 30 cm x 2 meter di salah satu pekarangan warga.
Itu merupakan tabung pemisah antara gas dan air bantuan dari gubernur Jateng pada 2017 lalu.
”Hingga saat ini tercatat setidaknya 24 KK yang rumahnya tersambung pipa PVC berisi gas alam," ujarnya.
"Instalasi pipa sudah menjalar ke rumah warga hingga 600 meter dari titik sumber gas," jelas Sarmadi.
Dia menjelaskan, karena lama tidak ada perawatan, tidak 24 KK tersebut dapat teraliri gas dengan maksimal.
”Saya menduga tabung pemisah antara gas dan air itu bermasalah, sehingga tekanan gasnya berkurang," jelasnya.
Sarmadi telah mengusulkan kepada dinas terkait.
Dia berharap potensi tersebut dapat dikelola dan dikembangkan dengan baik.
”Gas di sini tekanannya besar. Saya berharap ada perhatian khusus dari Dinas ESDM. Supaya dapat semakin meluas yang menerima manfaat," harapnya. (fik/lin)
Editor : Abdul Rokhim