GROBOGAN - Curah hujan tinggi dan derasnya limpasan air sungai lusi membuat longsor meluas.
Kondisi ini membuat warga di Dusun Ngringgit Desa Dapurno Kecamatan Wirosari, cemas tiap kali hujan.
Menurut Modin setempat, Syu'aib, 67, menyebutkan sejak tahun 1980 hingga sekarang tercatat empat rumah yang sudah hilang.
"Mereka sudah pindah ke rumah kerabat dan saat ini masih terdapat empat rumah yang terancam," katanya Sabtu (30/3) sore.
Menyambung, warga terdampak, Supartini, 61, bersama sang suami Suparman, 65, mengatakan tidak ada pilihan lain selain bertahan di rumahnya saat ini.
Baca Juga: Diduga Lakukan Penggelapan, FIFGROUP Laporkan Oknum Debitur Nakal ke Polres Kudus
"Kalau hujan saya ndak bisa tidur, mau pindah ya pindah kemana wong tanahe di sini," keluhnya.
Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus menilik lokasi, Supartini mengajak untuk melihat kondisi bangunan belakang rumahnya yang sudah menggantung.
Seketika membuka pintu belakang rumah, langsung dihadapkan dengan tanah yang longsor sedalam 10 meteran.
"Saya kalau mau ke kamar mandi ini juga takut, soalnya juga sudah nggandul begini bangunannya," ungkapnya.
Warga lain, Sunardi, 32, juga tak bisa berbuat banyak. Menyaksikan batas longsoran yang kian menuju tanahnya.
Padahal upaya pemancangan secara gotong royong menggunakan bambu sudah dilakukan.
Namun tidak bisa bertahan lama.
Saat ini warga hanya berusaha membungkus tepian tanah yang longsor dengan terpal sebagai penjagaan.
"Panjang tanah longsor ini dengan bibir sungai sudah 15 meter. Semakin hari semakin parah, apalagi kalau hujan dan air sungai penuh seperti pada pertengahan bulan ini. Tanah seperti jelly telusur," terangnya.
Selain itu, sekitar 20 meter setelah rumahnya, tanah longsor sejurus dengan masjid dan madrasah.
"Ini ujung jalan (cor, Red) tanah di bawahnya sudah ngerong," ujar Sunardi menunjuk jalan sejurus dengan kompleks masjid.
Terpisah, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA BBWS Pemali Juana, Bakti menyampaikan pihaknya masih berjibaku pada perbaikan kerusakan di saluran irigasi atau tanggul sungai Wulan dan Godong.
"Tidak ada yang diistimewakan, karena sumber daya kami juga terbatas. Baik tenaga maupun alatnya. Kalau ini tidak segera diperbaiki juga bisa menimbulkan krisis baru," jelasnya Minggu (31/3).
Menanggapi upaya penanganan bibir sungai Lusi di Dusun Ngringgit yang longsor, pihaknya meminta untuk mengantre.
"Atau mari kita jalin kolaborasi dengan pemdes, pemda atau pemkab. Akan kami sediakan geobag textile, supplay bahan bakar (solar, Red), dan bahan-bahan untuk perkuatan tanah," ujarnya.
Menurutnya, secara kewenangan pengelolaan sumberdaya air memang dari pihak BBWS.
Pada prinsipnya pihaknya pun semaksimal mungkin membantu.
Tapi karena tanggap darurat juga terjadi di daerah lain mau tidak mau harus mengantre.
"Atau kalau mau secepatnya ditangani, silakan dari pemdes atau pemkab kontribusinya apa, kami bisa ngisi di bagian apa. Yang jelas untuk alat berat saat ini tidak ada yang nganggur," katanya. (fik/ali)
Editor : Ali Mustofa