GROBOGAN - Baru-baru ini warga Grobogan dihebohkan dengan beredarnya video munculnya gunung api baru pascagempa di Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan.
Kepala Desa Karanglundo, Supangat tidak membenarkan fenomena tersebut.
Dia mengatakan, hal itu merupakan Bledug Kramesan yang sudah timbul puluhan tahun silam.
Baca Juga: Terbongkar! Begini FAKTA Munculnya Gunung Lumpur di Ngaringan Grobogan Diduga Pasca Gempa Tuban
"Itu sudah lama, bahkan sebelum saya lahir sudah ada," tegasnya Senin (25/3).
Bledug Kramesan berada di antara Desa Kalanglundo dan Desa Sendangrejo.
Diapit oleh area persawahan dan rawa.
Aktivitasnya pun tak jauh beda dengan Bledug Kuwu atau Bledug Cangkring.
Baca Juga: Tragis! Seorang Pria Diduga ODGJ Ditemukan Tewas Tertemper Kereta Api di Godong Grobogan, Begini Kejadiannya
"Ya, timbul letupan-letupan kecil. Pascagempa kemarin juga tidak memuntahkan lumpur banyak seperti Bledug Cangkring," bebernya.
Meskipun juga terdapat sejumlah sumber mata air yang keluar di area persawahan, namun aktivitas pertanian oleh warga setempat pun berjalan dengan baik.
"Sumber airnya itu kecil-kecil, seperti di Sendang Dudo Api Abadi Mrapen. Hasil panen di sini juga bagus," sebutnya.
Terpisah, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid menyampaikan fenomena Bledug Kramesan bukan suatu hal yang luar biasa.
Baca Juga: Jadi Best In Show, Bonsai Hokianti Milik Warga Gresik Jatim Dapat Door Prize Seekor Sapi, Begini Wujudnya!
Melainkan sebagai mud volcano (gunung lumpur) yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Gempa di Bawean pada tanggal Jumat (22/3) sore dengan skala 6.5 SR menyebabkan sistem migrasi hidrokarbon maupun lumpur menjadi lebih aktif karena terdapat bukaan, patahan atau rekahan.
"Gejolak lumpur menemukan jalan keluarnya yang pada kali ini melalui Bledug Cangkring, bukan Bledug Kramesan," rujuknya.
Diketahui jarak antara Bledug Kramesan dengan Bledug Kuwu 3,4 km. Sementara dari Bledug Kramesan ke Bledug Cangkring 4,9 km.
"Bledug Kramesan ini memiliki ketinggian 25 meter dari permukaan tanah. Yang terbentuk dari material mud diapir (penerobosan atau rembesan lumpur, Red) yang lolos ke permukaan kemudian membentuk gunungan," jelasnya.
Baca Juga: Bonsai Warga Solo Ini Ditawar Rp1 Miliar di Pameran Bonsai di Grobogan Tapi Tak Dilepas, Seperti Apa Penampakannya?
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya hal itu meliputi amblesan, kecepatan pengendapan, lapisan plastis, cairan mengalami overpressure dan sedimen di bawah pemadatan.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Ini 10 Khasiat Buah Lemon untuk Kesehatan
Termasuk potensi hidrokarbon dan produksi air diagenetik serta kompresi tektonik dan gradien panas bumi yang tinggi.
"Masyarakat supaya tidak merasa panik. Karena Bledug Kramesan ini posisinya masih dalam satu sesar dengan Bledug Kuwu dan Bledug Cangkring," imbaunya.(fik/khim)
Editor : Abdul Rokhim