GROBOGAN – Bledug Cangkring atau baby volcano yang berada di Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, muntahkan lumpur pada Jumat (22/3) sore atau setelah gempa yang berpusat di lepas pantai Tuban.
Warga Dusun Jati, Desa Grabagan, Pujiati gugup saat baby volcano memuntahkan lumpur dengan begitu deras.
Lantaran usai panen dan kebetulan sedang menjemur tiga karung gabah di sebelah gunungan baby volcano persis.
Baca Juga: Ini Dia Nama-nama Pemenang Lomba Bonsai Tingkat Nasional di Grobogan, Berikut Daftarnya!
”Tiba-tiba lumpurnya itu mak sor… Untung ada warga yang membantu menyelamatkan hasil panen itu," sebut Pujiati sembari menunjukkan padi dan letak sawahnya.
Diketahui, kejadian itu terjadi sekitar pukul 16.00. Tepatnya usai terjadi gempa 6.5 skala richter di laut Tuban.
”Pendapa di ujung itu saja goyang-goyang," katanya sambil menunjuk bangunan berbentuk pendapa.
Kepala Desa Grabagan Eko Setyawan menjelasksan, baby volcano memuntahkan lumpur sekitar satu jam. ”Menjelang Magrib itu sudah mampet," ujarnya.
Baca Juga: Ratusan Bonsai Ikuti Kontes Tingkat Nasional di Halaman Dewi Sri Purwodadi, Hadiah Utama Seekor Sapi
Merujuk wilayah baby volcano, memiliki luas setidaknya 9 hektare. Akibat muntahan lumpur itu, dua hektare di antaranya terendam lumpur.
”Endapan yang timbul sedalam 70 cm. Ada empat rumah terdampak, tapi tidak parah karena lokasinya berjarak dengan titik luapan," jelasnya.
Eko menjelaskan, kejadian ini baru kali pertama dialami pada tahun ini.
”Setiap terjadi gempa biasanya memang mengeluarkan lumpur," jelasnya.
Saat wartawan meninjau lokasi, baby volcano masih membuat letupan-letupan kecil dari puluhan lubang.
Namun, terdapat setidaknya dua lubang berdiameter satu meter yang juga berkali-kali meletup dan membuat suara seperti gemuruh.
Meski terdapat gelembung-gelembung yang keluar pada beberapa titik, tapi air yang keluar tidak terasa panas.
Kasi Energi Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan Sinung Sugeng Ariyanto menerangkan, aktivitas baby volcano memang dipicu oleh gempa tersebut.
”Melubernya lumpur bercampur gas yang terjadi ini, memang termasuk peristiwa mud volcano (gunung lumpur)," terangnya.
Peristiwa keluarnya gas yang berupa methana, nitrogen, hidrogen sulfida, dan zat lain tersebut, juga biasa terjadi di Bledug Kuwu, Bledug Kesongo, maupun Lusi.
”Namun perbedaannya, kemarin (usai gempa, Red) volumenya lebih besar dari biasanya hingga meluber ke sekitar dan peristiwanya terjadi sesaat setelah gempa di Laut Tuban," urainya.
Baca Juga: Ada Cerita Mistis di Balik Ritual Sembelih Kambing Kendit saat Penutupan Tanggul Sungai Wulan Demak
Sinung menyontohkan, seperti halnya peristiwa Bledug Lusi dengan gempa Jogjakarta. Sebetulnya tidak berada dalam satu zona sesar yang sama.
”Dapat dipahami karena gelombang atau episentrum gempa merambat ke segala arah," ujarnya.
"Sehingga menyebabkan sumber (source rock) di bawah permukaan dari gas dan lumpur Bledug Cangkring dan sekitarnya mengalami goncangan. Juga gas terkumpul dengan tekanan tinggi dan berusaha keluar," imbuhnya.
”Ketika lumpur yang keluar kenapa tidak di Bledug Kuwu atau lokasi mud volcano lain? Untuk saat ini berarti Bledug Cangkring merupakan jalan paling dekat lumpur naik ke permukaan tanah," imbuhnya. (fik/lin)
Editor : Ali Mustofa