GROBOGAN – Masjid bersejarah di Kota Purwodadi salah satunya adalah Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi.
Masjid tersebut berada di tengah kota sebelah timur alun-alun Purwodadi.
Dulunya memiliki fungsi padepokan. Di mana lahannya merupakan wakaf dari Bupati Ronggo.
Ketua Yayasan Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi Ari Budi Yani menjelaskan, masjid ini dibangun pada tahun 1868 Masehi.
Masjid dibangun mengikuti model masjid di Demak dengan tiga trap.
Status masjid ini merupakan tanah wakaf dari Bupati Ronggo sesuai bukti C tanah adalah panglima perang Kerajaan Mataram.
Saat itu, wilayahnya dari Kertosono sampai Kedu.
“Saat itu, masjid digunakan sebagai rumah perdikan tempat padepokan. Pembuatan perdikan itu, dibuat sebelum tahun 1800-an. Baru kemudian masjid,” ujarnya.
Sebagai waktu penanda dibangunnya masjid itu, dituliskan di mihrab masjid tertanggal 1-1-1868 dan 18-7-1953.
Pembangunan masjid ini berbarengan dengan perpindahan pusat pemerintahan dari Kawedanan Grobogan ke Kota Purwodadi.
Dikatakan, status dari masjid merupakan tanah wakaf dengan hak milik dari Bupati Ronggo.
Luas dari tanah wakaf ada 9.880 meter persegi. Namun, jumlahnya sekarang berkurang tinggal 4.850 meter persegi.
Luas tanah itu, termasuk dengan area makam umum di belakang.
Pengukuran ulang dilakukan pengurus Yayasan Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi pada tanggal 11 Maret 2016.
Keberadaan makam umum kauman tersebut sekarang ditutup untuk umum.
Baca Juga: Penambalan Tanggul Jebol di Sungai Wulan Demak Belum Tertutup Sempurna, Ini Salah Satu Kendalanya
Pertahankan Keaslian Atap dan Mimbar
Meski bangunan sempat direnovasi beberapa kali. Namun, mihrab, tiang, atap, dan mimbar masih dipertahankan keasliannya.
Hal itu, terlihat dari dokumen foto Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi.
Mimbar ini memiliki desain tiga undakan. Di atasnya adanya penutup kayu dan tanggal pembuatan.
Kemudian tiang saka masjid empat masih asli. Dari kayu jati yang dibungkus dengan bentuk bulat.
Kemudian bagian tengah masjid ada tangga untuk naik ke atas masjid.
Bangunan masih dipertahankan untuk usuk dan reng masih menggunakan kayu.
Sedangkan mustaka masjid dipertahankan sesuai aslinya. Dibuat ulang, karena yang lama sudah rusak.
Renovasi masjid dilakukan beberapa kali.
Di antaranya dari catatan Yayasan Masjid Baitul Makmur Purwodadi ada empat kali renovasi. Yaitu mulai tahun 1924, 1954, 1974 dan tahun 2002.
”Dari catatan yang saya punya ada empat kali perubahan. Yaitu tahun 1924 ada pemugaran. Tahun 1954 penggantian mustaka lagi dirubah 1972-1974 saat itu, yang rubah Bapak Supardi Rustam Gubernur Jawa Tengah saat itu dengan mengganti mustaka masjid. Lagi pada 2001-2002 ada pembangunan masjid dengan mengganti mustaka masjid pada zaman Bupati Agus Supriyanto,” katanya.
Masjid ini juga mempunyai tiga pintu besar dari depan. Dua pintu kanan kiri bergambar naga.
"Konon ada kaitanya dengan Ki Ageng Selo sebagai penangkap petir an kerajaan Kasunaan Demak. Pintu itu baru dibuat saat Bupati Agus Supriyanto tahun 2001,” tambahnya.
Baca Juga: Ada Cerita Mistis di Balik Ritual Sembelih Kambing Kendit saat Penutupan Tanggul Sungai Wulan Demak
Bersebelahan dengan Makam Murid Sunan Kalijaga
Sejarah lainya tentang tuanya masjid yang berusia lebih 156 tahun lalu juga ada makam di belakang masjid.
Di mana makam tersebut mempunyai sejarah dalam perjalanan penyebaran Islam di Kabupaten Grobogan.
Konon makam yang di belakang masjid merupakan makam salah satu santri dari Sunan Kalijaga atau pengikut dari Sultan Fattah dari Kerajaan Demak.
“Masjid ini ternyata memiliki ada sejarah makam belakang dengan kasunanan Demak. Yang di bekalang ceritanya termasukan kekasih Sultan Fattah. Dia jadi santri dan pengikutnya Sunan Kalijaga,” kata Ketua Yayasan Masjid Besar Baitul Makmur Purwodadi Ari Budi Yani.
Keberadaan masjid Baitul Makmur juga ada kejadian mistis kepada warga yang sedang menunggu di masjid atau berada sebelah masjid tempat pengobatan.
Konon ceritanya saat ada pasien menunggu berobat tiba-tiba didatangi orang tua dan memberikan salam serta tanyakan kabar.
Beberapa saat kemudian orang tersebut menghilang. Tidak hanya satu dua orang yang mengalami kejadian itu. Penampakan itu, berasal dari makam belakang masjid.
”Jika cerita mistis iya penampakan itu, dari penunggu dari makam belakang masjid. Karena di masjid ini dikenal sebagai terminal. Jika ada orang maju ke Ki Ageng Selo mampir di masjid dan jika ke makam Mbah Mutamakin mampirnya juga di masjid ini,” terang dia.
Sementara itu, selama bulan Ramadan masjid besar Baitul Makmur Purwodadi menyediakan 200 takjil paket buka puasa setiap hari.
Takjil itu, berasal dari sumbangan donatur dan relawan yang memasak dari sekitar masjid.
Buka bersama dimulai dengan memberikan kurma dan air putih untuk Dewasa dan jajanan buat anak-anak.
Setelah salat magrib berjamaah baru diberikan makan besar secara prasmanan. (mun/war)
Editor : Noor Syafaatul Udhma