Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Mistis Masjid Keramat Baiturrohman Menduran Grobogan, Tak Pernah Kebanjiran Meski Pemukiman Warga Terendam

Fikri Thoharudin • Sabtu, 16 Maret 2024 | 18:06 WIB
MEGAH: Tembok depan sekaligus menara Masjid Baiturrohman Menduran yang dibangun seperti gaya arsitektur Timur Tengah beberapa waktu lalu.
MEGAH: Tembok depan sekaligus menara Masjid Baiturrohman Menduran yang dibangun seperti gaya arsitektur Timur Tengah beberapa waktu lalu.

GROBOGAN - Suara bedug yang ditabuh itu menggelegar dari atas menara Masjid Baiturrohman yang terletak di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan. 

Suara tersebut bukan lagi menjadi hal asing bagi masyarakat sekitar karena selalu menjadi penanda waktu salat lima waktu kecuali salat Subuh.

Selepas tabuhan bedug dan kentongan yang disusul azan-ikamah.

Warga setempat termasuk santri dari Pondok Pesantren Salafiyyah Al Marom berduyun-duyun salat Zuhur berjemaah saat wartawan datang ke lokasi pada Selasa (12/3).

Di Grobogan, nama Masjid Baiturrohman boleh jadi kalah terkenal dengan Masjid Baitul Ma’mur di Alun-alun Purwodadi atau Masjid Besar Jabalul Khoir di Simpanglima Purwodadi.

Masjid ini didirikan pada tahun 1700-an oleh Kiai Kafiludin Jamal.

Beliau adalah salah seorang ulama Madura cikal bakal Desa Menduran yang makamnya berada persis di belakang lingkungan masjid.

Beragam misteri menyelimuti masjid ini karena meskipun berada di sebelah persis bantaran Sungai Lusi namun tidak pernah kebanjiran.

Memang terdapat tembok dari pasangan bata merah sepanjang 80 meter dengan ketebalan 1,75 meter.

Jika terjadi banjir besar meskipun pemukiman setempat terendam namun air tidak sampai masuk masjid. 

Awalnya pengasuh Ponpes Salafiyyah al Marom atau cucu ke-8 dari Kiai Kafiludin Jamal, Gus Lizamuddin Kafi pun keheranan terhadap kondisi masjid.

"Kalau tembok-tembok masjid ini dibongkar, isinya kayu-kayu kuno. Dari lantai granit yang di bawahnya terdapat lembaran kayu, tembok dan tempat mimbar untuk berkhutbah itu juga sama," ungkapnya.

Baru kemudian Gus Kafi mengerti saat diberi tahu oleh almarhum ayahandanya (Kiai Munawar Kholil, Red) upaya menutupi rangka kayu itu dilakukan untuk mengurangi nilai mistis yang ada.

"Logikanya juga memang gak ketemu. Karena dulu bangun pasirnya ngambil dari kali, cornya dari gamping, rangka ya ada yang dari bambu," herannya.

Hingga saat ini pun jarang ada yang berani merenovasi bangunan masjid.

"Paling ya cuma cat ulang," hematnya. 

Menceritakan sosok simbahnya yang membangun masjid itu, Gus Kafi mengatakan banyak yang mengisahkan bahwa beliau adalah wali mastur.

"Dulu itu simbah Kafiludin Jamal diminta ayahnya (Adipati Madura) untuk mencari adiknya yang bernama Jamil. Waktu itu kan mengembara atau masih beragama Hindu tidak jelas," ceritanya.

Tapi saat sampai di daerah yang kini disebut Pati, perbekalan habis.

Sehingga Kiai Kafiludin ikut sayembara dan menang dihadiahi sebidang tanah yang sekarang bernama Menduran ini.

"Kenapa kemudian simbah membangun masjid di tepi sungai? Karena tidak mau diketahui oleh orang," tuturnya.

"Niatnya seperti ingin uzlah atau mengasingkan diri dari pihak luar," imbuhnya.

Secara jaraknya, memang keberadaan masjid bisa ditempuh hanya dengan lima menit dari pusat Kabupaten Grobogan.

Namun di antara jalan menuju ke masjid harus menyeberangi jembatan kayu yang melintangi Sungai Lusi.

"Pesan dari abah saya yakni Kiai Munawar terkait masjid dan pondok pesantren yaitu, semua diwakafkan untuk anak cucu dan semua kaum muslimin hingga hari kiamat,” tiru Gus Kafi.

Gus Kafi juga menyampaikan bahwa tak jarang ada orang yang datang dari luar daerah yang mohon izin untuk meminta air dari masjid.

"Kalau dari saya tentu tidak saya betulkan bahwa air kolah itu dapat menyembuhkan. Karena dari riwayatnya tidak ada yang seperti itu. Tapi kok tidak satu dua orang yang ke sini untuk minta air dan dijadikan sebagai obat?" herannya.

Termasuk jika peringatan haul pada 27 Muharam itu tidak bisa berjalan apabila diisi oleh orang yang bukan dari habib atau keturunan nabi.

"Hanya dua orang (bukan habib, Red) yang bisa mengisi yakni Mbah Maimun Zubair dan Gus Ali," tuturnya sembari merujuk menara masjid yang meresmikan ialah Habib Syech di tahun 2000-an.

Memang di masa hidupnya, abah dari Gus Kafi amat memuliakan keturunan Nabi Muhammad.

Bahkan membuatkan puluhan kamar khusus apabila terdapat habib yang berkunjung. 

Hingga saat ini masjid yang di atasnya terdapat pondok pesantren Salafiyyah Al Marom tersebut menjadi simpul kegiatan masyarakat. (fik)

Editor : Dzikrina Abdillah
#masjid #Menduran #grobogan #keramat #misteri #Baiturrohman #Kebanjiran