GROBOGAN - Tragedi dan penanganan tanggul jebol di Desa Kemiri Kecamatan Gubug menyisakan misteri tersendiri bagi warga sekitar utamanya para operator alat berat.
Saat itu Ketua RT 1 RW 4 Desa Kemiri, Pasiman, 49, memandang wartawan dengan raut muka tajam saat menilik area penambalan tanggul.
Ia seperti tidak menunjukkan rasa suka.
Tapi setelah disalami sontak dia menggenggam tangan wartawan selama beberapa menit.
Pasiman merapalkan doa yang cukup panjang dengan kondisi mata tertutup.
Beberapa kata seperti "keselamatan, kesehatan, dan perlindungan" keluar dari mulut usia senjanya ditujukan kepada wartawan pada sore hari beberapa pekan yang lalu.
Maksud tersebut baru diketahui setelah Pasiman melepaskan genggaman eratnya.
Dia menceritakan bahwa para pekerja sedang mendapatkan gangguan tak kasat mata.
"Saya tidak bekerja selama beberapa hari hanya untuk berjaga di sekitar tanggul," ujarnya di awal memberi pengertian.
Lebih lanjut Pasiman menceritakan di dekat tanggul yang jebol tersebut.
Ia menyebut terdapat bantaran sungai yang disebut sebagai Kali Mati.
Di tempat itulah para operator mendapat gangguan dari makhluk gaib.
"Orang desa menyebutnya Sundel Bolong," rujuk Pasiman terhadap sosok yang mengganggu.
Salah satu operator, RN (25) berekspresi pucat saat diberitahu oleh Pasiman.
Apa yang disampaikan Pasiman persis dengan apa yang dirasakan pekerja dari Surabaya tersebut.
Pasalnya RN merasa selalu ada yang membonceng di belakang jika pulang ke rumahnya di Tuntang.
"Saya kalau pulang ya malam karena lembur. Pukul 00.00 atau pukul 01.00 lewat hutan Kedungjati," ujarnya.
Pasiman menerangkan jika RN disukai oleh jin yang menjelma Sundel Bolong tersebut.
"Mereka itu biasanya menyukai pengantin baru," catat Pasiman.
Sontak nyali RN makin menciut, tak peduli dengan wajah garang maupun tato yang ia buat di lengan tangan kirinya.
Ternyata RN juga belum lama menikah.
Para pekerja yang lain pun baru mengerti saat Pasiman menjelaskan hal tersebut.
Tak ayal, para operator alat berat (ekskavator dan buldoser, Red) yang sering merasakan mual saat bekerja, padahal makan pun terjaga.
"Yang diam di tempat saja tiba-tiba kakinya bisa mrepel (bercak merah, Red) sendiri kok," celetuk pengawas operator, Agung menunjukkan kaki kananya.
RN pun bertanya kepada Pasiman mengapa merasakan sesuatu yang berat di bagian alat vital miliknya.
Sementara dia seperti tidak sadar sedang berada di mana padahal posisinya di atas ekskavator.
Pasiman pun berusaha menjelaskan dengan lembut kepada RN.
"Lato-latomu itu dibuat mainan sama dia. Awalnya saya juga ndak tahu, tapi ada yang seakan mengarahkan saya untuk turun ke tanggul, terus naik ke alat beratmu. Sebelum naik saya kencing di belakang bego to? Baru nyapa sampean?" ungkap Pasiman.
Ia menjelaskan kencing untuk merendahkan makhluk tak kasat mata itu agar mau pergi.
RN pun kalang kabut menghadapi pernyataan tersebut, tanpa ada penolakan.
"Memang berbeda, sebelum Pak Pasiman tiba-tiba naik ke eksavator badan rasanya berat, kepala juga pusing banget. Tapi setelah itu kok gak," jelas RN.
"Ya begitu kalau alat vital seseorang dipaksa dimainin terus kan rasanya di badan seperti itu," lanjut Pasiman.
Setidaknya 8 orang yang berada di lokasi saling memandang dengan tatapan kosong.
Pasiman pun memberi penjelasan, mereka (Sundel Bolong, Red) sebenarnya juga marah karena rumah mereka diobrak-abrik alat berat.
"Yang jelas mereka juga ndak mau tanggul cepet selesai makane ganggu," beber Pasiman sembari meminta untuk menggantungkan diri kepada Tuhan.
"Pantes waktu pertama ke sini memang ada yang aneh. Kayak bentuk jebolnya tanggul atau kejadian muntah-muntah itu," tanggap operator yang lain.
"Pokoke podo uluk salam disik nek meh ngambah opo-opo. Bismillah bar iki aman!" tegas Pasiman sambil berharap.(fik)
Editor : Dzikrina Abdillah