Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

313 Jiwa di Grobogan Terjangkit Demam Berdarah (DB), Kenali Tanda dan Antisipasinya

Abdul Rokhim • Sabtu, 2 Maret 2024 | 00:58 WIB
RAWAT: Keluarga pasien sedang mengantarkan anggota keluarga yang diduga terkena demam berdarah dengue (DBD) di RSUD Raden Soedjati Purwodadi pada Jumat (1/3).
RAWAT: Keluarga pasien sedang mengantarkan anggota keluarga yang diduga terkena demam berdarah dengue (DBD) di RSUD Raden Soedjati Purwodadi pada Jumat (1/3).

GROBOGAN - Memasuki puncak musim hujan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Grobogan terus merangkak naik.

Dokter RSUD Raden Soedjati Purwodadi Eros Budi Setiawan menyampaikan data per tanggal 28 Februari terdapat pasien 313 yang terjangkit penyakit tersebut.

Angka itu dibagi ke dalam tiga kategori yakni dengue haemoragic fever (DHF), demam dengue (DD) dan dengue shock syndrome (DSS).

Baca Juga: Lima Pengeroyok Anggota TNI saat Amankan Pentas Dangdut Pernikahan di Grobogan Divonis 1 Tahun 10 Bulan

"DHF mencapai 85 persen, DD 5 persen dan sisanya masuk ke dalam DSS," terangnya.

Dokter Eros menggambarkan diagram tahap penjangkitan DBD seperti pelana kuda.

Tiga hari pertama panas tinggi, 4-5 hari setelahnya menurun, dan 6-7 hari setelahnya penyembuhan.

Hal itu ditinjau dari kondisi trombosit per hari setelah demam.

Perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan NS1 sebagai tes untuk mendeteksi keberadaan protein non-struktural 1 (NS1).

"Deteksi menggunakan NS1 ini bisa dilakukan bahkan di hari pertama demam, karena anjloknya suhu badan biasanya terjadi di hari keempat," ujarnya.

Saat paling menegangkan ialah saat peralihan dari tahap DHF ke DSS.

"Trombosit turun. Di dalam pembuluh darat itu terdapat plasma, jika plasma bocor cairan keluar dan bisa menyebar ke mana-mana. Termasuk paru-paru dan mengisi cairan perut. Kalau ngisi ke paru-paru akhirnya fungsi nafas berat, tertekan oleh cairan," urainya.

Untuk mencegah hal itu terjadi penting untuk dilakukan uji lab sesegera mungkin agar diketahui seseorang yang demam apakah terindikasi sebagai DBD.

"Karena kalau sampai tahap ini nututinya kewalahan. Ada yang sampai meninggal," amatinya.

Dokter Eros melanjutkan mengapa tren kasus didominasi oleh anak-anak.

"Sebab daya tahan atau sistem imun tubuh belum sekuat orang dewasa," rujuknya.

Untuk melakukan pencegahan, pihaknya meminta kepada masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus secara mandiri maupun serentak.

Langkah 3M plus meliputi menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti.

"Tatakan minum dispenser atau wadah tempat minum burung pun dapat menjadi tempat berkembang biak," sebutnya.
Dia mengingatkan untuk selalu waspada apalagi kondisi musim yang tak menentu.

"Bisa juga memakai klambu. Tapi kalau klambu terbatas tempat, begitu keluar bisa digigit nyamuk. Lotion jadi pilihan yang patut daripada obat nyamuk bakar," pesannya. (fik)

Editor : Abdul Rokhim
#demam berdarah #grobogan #terjangkit #purwodadi #kasus