GROBOGAN - Hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan menunjukkan jumlah petani di Kabupaten Grobogan sebanyak 289.197 unit.
Jumlah ini turun 14,30 persen jika dibandingkan hasil ST 2013 yang mencapai 337.456 unit.
Kepala BPS Grobogan Anang Sarwoto mengatakan, penurunan angka petani ini perlu menjadi perhatian bersama karena sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Terlebih Kabupaten Grobogan jumlah usaha pertanian terbesar se-Jateng, di mana potensi pertaniannya terbesar.
Baca Juga: Tiga Kali Jebol, Tanggul di Plosorejo Grobogan Kini Hanya Ditangani Darurat
”Penurunan jumlah petani ini dipicu oleh turunnya unit usaha pertanian (UTP) 14,30 persen. Meski jumlah rumah tangga usaha pertanian (RTUP) mengalami kenaikan 6,72 persen. Secara menyeluruh, rumah tangga yang menggunakan pertanian naik,” jelasnya.
Dengan UTP yang menurun, otomatis lahan pertanian mengalami pengurangan.
Menurutnya, salah satu fenomena yang terjadi lantaran para petani atau sumber daya manusia (SDM) mulai bergeser ke pekerjaan lain seperti industri.
”Bahkan, lahan pertanian yang sekarang mungkin banyak yang tidak menjadi lahan pertanian lagi. Namun dialih fungsikan jadi lahan industri. Seperti yang terjadi di PT Pungkook, selama sepuluh tahun tentunya banyak perubahan di wilayah tersebut," katanya.
"Mulanya sawah menjadi lahan industri. Kemudian adanya pabrik tersebut juga menyerap cukup banyak tenaga kerja. Sehingga jumlah petani kita ada yang beralih ke sana. Mau nggak mau fenomena perekonomian akan menggeser ke arah industri. Tapi kita (Red, Kabupaten Grobogan) potensinya masih yang paling banyak,” ungkap Anang.
Baca Juga: Kandang Terbakar, Puluhan Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang di Bandungjarjo Grobogan, Kerugian Rp1,5 Miliar
Selain itu, di Kota Swike ini cukup banyak petani milenial. Artinya tingkat regenerasi di sektor pertanian cukup bagus. Jumlah petani milenial yang berusia 19-39 terdata ada 54.175 orang.
”Meski tergolong millennial, tidak serta merta membuat mereka mengembangkan teknologi digital selama bertani. Ternyata, petani milenial yang menggunakan teknologi digital hanya 32.632 orang, sedangkan 21.543 orang tidak menggunakan teknologi digital,” ungkapnya.
Editor : Abdul Rokhim