GROBOGAN - Desa Penadaran mengadakan tradisi Ngunduh Banyu Udan kemarin.
Tradisi ini berupa doa bersama (berbagai agama) lantaran tak kunjung turun hujan dan stok air desa menipis.
Kepala Desa Penadaran Sholehatu Ridlo mengatakan, tradisi kirab tersebut telah berjalan sejak 2018. Biasanya dilakukan setiap 10 Oktober.
Tradisi ini sempat terhenti selama dua tahun karena pandemi Covid-19.
Adanya tradisi tersebut untuk memohon kepada sang pencipta agar segera diturunkan hujan setelah hampir enam bulan terjadi kemarau panjang.
Inovasi yang dibuat warga desa itu dengan mengembangkan sistem pemanfaatan air hujan (SPAH) melalui Omah Udan.
Sistem ini memanfaatkan curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
“Selama ini, air hujan disimpan di rumah joglo dari kayu jati. Letaknya di bawah Gua Maria tepatnya di Dusun Bantengan. Di halaman rumah budaya terdapat enam tower penampung air hujan langsung dari langit,” jelasnya.
Di rumah budaya tersebut dilengkapi dengan pipa-pipa di bawah geladak rumah yang digunakan untuk menyimpan air hujan.
“Air hujan itu melalui proses filterisasi untuk memisah air asam dan basa. Air basa layak diminum, sedangkan yang asam digunakan untuk cuci muka,” imbuhnya.
Selain memanfaatkan air hujan sebagai air minum, desa tersebut juga memanfaatkan SPAH untuk mengurangi laju erosi dan sedimentasi.
"Sehingga bisa menjaga keseimbangan hidrologi air tanah, penurunan tanah serta menjadi stok air di musim kemarau,” ujarnya.
Menurutnya, sistem SPAH yang diterapkan itu terdiri dari sistem penampungan air hujan (PAH) dan sistem pengolahan air hujan.
PAH dilengkapi dengan talang air, saringan pasir, bak penampungan dan sumur resapan.
Kini kondisi tower penampung air hujan tersebut dalam keadaan tak ada air.
"Tentunya dengan kegiatan ini dengan doa kami semoga Tuhan segera memberi hujan dan cukup untuk bercocok tanam,” harap Ridlo. (int/mal)
Editor : Ali Mustofa