GROBOGAN - Dokter gadungan Susanto yang baru-baru ini kedapatan ketahuan memalsukan identitas dokter lain saat perpanjangan kontrak di RS PHC Surabaya ternyata lahir di Kabupaten Grobogan.
Susanto merupakan warga Dusun Kawu Desa Tunggulrejo Kecamatan Gabus.
Baca Juga: SOSOK Dessy Anggara Listy, Konten Kreator Sekaligus Ibu Muda asal Toroh Grobogan yang Raup Cuan dari Rumah
Saat disambangi di kediamannya, wartawan Jawa Pos Radar Kudus hanya bertemu dengan Suparmi yang merupakan ibu kandungnya.
Di rumah yang sederhana, anak pertama dari tiga bersaudara ini dibesarkan.
Selama ini, ternyata pihak keluarga mengaku tak pernah mengetahui bahwa Susanto, dokter gadungan pernah tersandung masalah hukum dan dipenjara.
Keluarga tak percaya, Susanto dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan baik bisa melakukan perbuatan tersebut.
Baca Juga: Mabuk, Pria Karangayung Grobogan Lempar Batu ke Pemotor, Begini Kronologinya
"Dia tertutup, tidak pernah berbagi cerita dengan keluarga. Baru tahu hari ini (Red, kemarin). Saya kaget saat mendengar anak saya terjerat kasus hukum. Gak pernah cerita kerja apa. Kalau pulang paling langsung mandi, tidur, berangkat kerja," ungkap Suparmi.
Menurutnya, sejak kecil, Susanto dikenal sebagai anak yang baik dan pandai. Anaknya mengenyam pendidikan SD hingga SMP di Kecamatan Gabus. Bahkan, ia dikenal selalu peringkat satu.
"Anaknya pintar, selalu peringkat 1 di kelasnya. Mendapatkan beasiswa juga. Hingga akhirnya sekolah di SMA mentereng di Magelang. Selama sekolah di sana ia tak pernah meminta uang saku, karena Susanto sepulang sekolah dilanjut kerja," ujarnya.
Baca Juga: Duh! Pendaftaran CASN 2023 Dikabarkan Mundur, Begini Kata BKN
Bahkan, uang sakunya tak pernah dipakai untuk jajan. Ia biasanya diberi jajan oleh temannya yang minta dibantu saat pelajaran.
Malah uang sakunya kerap dikembalikan kepada orangtuanya lagi.
Usai lulus SMA, anaknya berpamitan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri tepatnya di Australia.
Bahkan saat berangkat pun sempat berpamitan dengan membawa koper besar. Susanto kuliah selama empat tahun.
Baca Juga: Membanggakan! Desa Jatilor di Kabupaten Grobogan Masuk Nominasi Desa Antikorupsi se-Jateng
"Empat tahun kemudian baru pulang dan menunjukkan ijazah kedokteran kepada saya," ujarnya.
Menurut Suparmi, setelah bekerja, anaknya beberapa kali menjenguknya. Namun ia tidak pernah cerita tentang pekerjaannya. Suparmi juga beberapa kali mendapatkan uang dari anaknya. Ia terkenal berbakti kepadanya.
"Dulu setiap dua atau tiga bulan sering ke sini. Kalau saya kangen, biasanya telpon. Orangnya tertutup. Kalau saya tahu dia berbuat salah seperti itu, pasti saya ingatkan," ungkapnya. (int)
Editor : Ali Mustofa