GROBOGAN – Krisis air bersih yang terjadi sejak Juli di Kabupaten Grobogan semakin meluas.
Saat ini, sudah menyebar di 80 desa di 17 kecamatan.
Baca Juga: Duh! Belum Setahun, Lampu Penerangan di Toroh Grobogan Banyak yang Rusak, Begini Kata Dinas
Baca Juga: Apes! Nyopet saat Acara Haul Ki Ageng Tarub Grobogan, Pria Warga Pati Ini Dimassa Warga, Begini Kronologinya
Hingga kini BPBD Grobogan telah menyalurkan sekitar 300 tangki atau 1.667.000 liter.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Endang Sulistyoningsih mengatakan, dari 19 kecamatan hingga kini yang tidak mengusulkan bantuan tinggal Kecamatan Klambu dan Godong.
”Untuk mengatasi kekurangan air bersih, setiap hari BPBD melakukan droping air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan air bersih. Mulai pagi hingga malam hari. Hingga enam kali putaran,” jelasnya.
Sedikitnya ada empat mobil tangki yang dipakai untuk operasional.
Namun, dengan meluasnya daerah yang mengalami krisis air di wilayah Grobogan, keterbatasan armada mobil tangki air menjadi kendala pelaksanaan dropping air bersih yang dilakukan BPBD.
Baca Juga: Manuver! Wakil Bupati Grobogan Bambang Pudjiyanto Pindah Partai Dari PDIP ke PKB, Ini Alasannya
Baca Juga: Kandang Ayam di Tanjungharjo Grobogan Ludes Terbakar, Puluhan Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang, Ini Kejadiannya
”Tangki air ada empat. Satu pinjaman dari Balai Prasarana Permukiman Semarang. Terkendala memang pada tangki air,” jelas Endang.
Untuk mengatasi kendala itu, pihak BPBD Grobogan telah mengajukan bantuan tangki air lagi ke Balai Prasarana Permukiman Wilayah Semarang untuk memperlancar droping air ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis air bersih.
”Ini tadi kami sudah koordinasi dengan Prasarana Permukiman Wilayah Semarang. Untuk minta bantuan satu tangki lagi,” imbuh Endang.
Baca Juga: Lagi, Rumah Warga Grobogan Ludes Dilalap Si Jago Merah, Begini Dugaan Penyebabnya
Baca Juga: Tersinggung, Pria Asal Ngaringan Grobogan Aniaya Teman Kerjanya Sendiri, Begini Kronologinya
Dampak kemarau panjang yang terjadi sejak Juli 2023.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga desa terpaksa harus menggali sungai yang mengering, membuat lubang kecil atau belik di hutan, hingga mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membeli air bersih.
”Meski begitu, hingga kini kami masih mampu mengatasi dampak musim kemarau yang tejadi. Sehingga belum mengeluarkan status darurat bencana. Sedangkan masih status siaga bencana,” imbuhnya. (int/lin)
Editor : Abdul Rokhim