GROBOGAN – Sebanyak 265 koleksi non fosil (peninggalan budaya/seni) di Museum Lokal dikonservasi tim Museum Ronggowarsito Semarang. Upaya konservasi ini untuk mencegah kerusakan pada koleksi tersebut.
Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Endang Darwati mengatakan, saat observasi sejumlah koleksi dalam kondisi kuat dan relatif baik.
Namun, ada beberapa koleksi yang di kompleks dinas setempat ini kondisinya mengalami degradasi. Ini disebabkan serangga/rayap, korosi hingga pengaruh kelembapan udara.
Selama dua hari, tim melakukan konservasi koleksi berupa keramik, kayu, logam, keris, dan wayang kulit.
“Tim juga melakukan pembersihan di dalam vitrin di mana koleksi di tempatkan, hingga pembersihan sarang laba-laba pada langit-langit ruang,”jelasnya.
Akhirnya, hasil dari konservasi benda koleksi budaya tersebut diketahui ada yang perlu penanganan khusus, lantaran ada kerusakan baik ringan maupun berat.
”Sebagian kerusakan karena kondisi koleksi yang mulai rapuh (menua secara alami). Pada koleksi wayang kulit, dipicu adanya serangga berupa rayap dan juga penempatan koleksi dalam kotak yang tertumpuk-tumpuk. Sehingga ada 58 koleksi wayang mengalami kerusakan berupa terlipat dan beberapa bagian wayang terlepas/patah. Selain itu di sekitar lokasi penyimpanan kotak wayang ditemukan bekas kulit ular,” ungkapnya.
Selain itu, pada koleksi logam dan keris yang hampir sebagian besar mengalami karat dan sisa endapan karbonatan.
”Setelah konservasi, dilakukan pembersihan vitrin dan penataan ulang,” imbuhnya.
Diungkapkan, jumlah yang dilakukan konservasi sebanyak 265 koleksi, yakni berjenis keramik ada 27 buah, kayu 6 buah, logam 70 buah, keris 17 buah dan wayang kulit 145 koleksi.
Selain logam, keris, dan wayang. Pada koleksi jenis kayu, salah satunya lesung juga diketahui memiliki kondisi retak dan bagian bawah keropos.
Sedangkan Meriam, juga mengalami kerusakan tubuh meriam aus serta kayu roda retak.
Ke depan pihaknya berharap agar konservasi koleksi di museum lokal ini bisa dilakukan secara berkala agar kondisi koleksi terjaga dengan baik.
”Harus ada SDM yang merawat benda koleksi museum, serta mereka memahami teknis pengelolaan koleksi. Kemudian harus ada penataan ulang posisi vitrin, agar pengunjung dan akses pembersihan lebih efektif. Serta menambah labeling koleksi dan deskripsi koleksi,” jelasnya. (int/him)
Editor : Ali Mustofa