Lebar jembatan hanya satu meter dengan panjang mencapai 50 meter. Tak hanya berbahan kayu, jembatan tersebut juga lapuk. Sempitnya jembatan mengakibatkan hanya kendaraan roda dua yang dapat melintas.
Tak hanya itu, jembatan juga tanpa palang. Pengendara yang melintas pun harus bergantian. Bila ada dua pengendara dari dua arah, salah satu harus mengalah.
Meski demikian, jembatan itu menjadi akses utama warga setempat. Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus selama setengah jam di lokasi, puluhan motor melintas. Mulai dari anak sekolah, orang dari dan menuju sawah, pedagang, dan pejalan kaki mengandalkan jembatan yang menghubungkan dua dusun itu, Dusun Bulakharjo dan Dusun Klumpit. Termasuk akses mencapai Kecamatan Toroh.
Sekretaris DPUPR Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan, satu dari dua jembatan itu akan diperbaiki pada 2024. Pembangunan jembatan itu dianggaran Rp 4 miliar. Menurutnya pihaknya ke depan menaruh perhatian khusus untuk jembatan di ruas jalan Bandungharjo-Jambangan itu.
’’Kami minta masyarakat untuk bersabar, karena tak mungkin kami langsung membangun semuanya,’’ imbuhnya.
Menurutnya pada ruas jalan tersebut sebenarnya ada 10 jembatan. Dari jumlah itu, ada tiga jembatan kayu yang rusak. Dua berukuran panjang mencapai 50 meter. Sementara satu lainnya lebih pendek.
Dua jembatan kayu yang berukuran panjang itulah yang biasa kerap memakan korban. Suprapto, 70 warga RT 9 RW 9 Dusun Bulakharjo, Desa Bandungharjo menyebut kondisi memprihatinkan jembatan itu sudah sejak lama. Dia mengingat pada 2002 jembatan tersebut sempat putus. Akibat banjir Sungai Glugu yang melintas di bawah jembatan itu.
“Dari dulu sampai sekarang ya tetap begitu. Kalau tidak diperbaiki swadaya. Paling diganti kayu-kayunya bila lapuk,” terangnya.
Warga lainnya Suto menyebut jembatan kerap rapuh karena kayu yang dipakai juga tipis. Terlebih jembatan menjadi akses utama warga. Sehingga selalu dilewati tiap hari.
“Kalau hujan sangat licin. Tak ada palang, sehingga banyak orang lewat jatuh. Banyak anak kecil terpeleset,” tambahnya.
Seingatnya dalam beberapa tahun terakhir ada 10 orang jatuh. Mereka yang jatuh mayoritas mengalami patah tulang. Bahkan sebagian masih cacat hingga hari ini.
“Ada yang patah, kepala pecah. Dan ada yang masih cacat. Jembatan ini goyang saat dilewati. Jadi ya pada terpeleset,” tuturnya. (tos/khim) Editor : Abdul Rokhim