Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, ada enam tenda yang berlubang. Tiga di baris bagian selatan. Tiga lainnya di baris utara. Kerusakan tampak pada bagian sambungan. Selain enam yang berlubang, ada belasan atap PKL lain yang sudah ditambal ala kadarnya secara swadaya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan Nugroho Agus Prastowo mengatakan, pihaknya telah mengusulkan untuk biaya perawatan. Namun belum mendapatkan persetujuan. Sehingga tak bisa memperbaiki hingga kini.
"Kalau kerusakannya sejak kapan tepatnya, kurang tahu. Pedagang yang lebih paham," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Groboga Pradana Setyawan melalui Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sigit Adiwibowo menyebut shelter PKL di alun-alun ada sejak 2016. Itu bagian fasilitasi penataan PKL yang berdagang di zona merah.
"Di kulineran alun-alun mewadahi 56 PKL. Sebanyak 22 di bagian utara dan 34 di selatan," katanya.
Sementara secara keseluruhan, selain shelter PKL di alun-alun, sejak 2014 Pemerintah Kabupaten Grobogan telah membangun lima shelter lainnya. Yakni taman kuliner Ir. Soekarno Simpang Lima, Pusat Kuliner Purwodadi Jetis eks koplak dokar dan Pusat Kuliner Katamso, kuliner Alun-alun, dan taman kuliner taman hutan kota Purwodadi.
Dari lima shelter itu mampu memfasilitasi 314 PKL. Dengan rincian Taman kuliner Ir. Soekarno Simpang Lima mampu menampung 130 PKL. Di blok A 4, blok B 40 dan blok C 50. Di Pusat Kuliner Purwodadi Jetis eks koplak dokar mampu menampung 70 PKL.
Sementara di Pusat Kuliner Katamso mampu menampung 34 PKL. Di kulineran alun-alun mewadahi 56 dan di taman kuliner hutan kota Purwodadi memfasilitasi 27 PKL. (tos/war) Editor : Abdul Rokhim