Baca Juga : Dihantam Hujan Disertai Angin Kencang, Satu Rumah di Grobogan Roboh, Penghuni Alami Luka
Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Kudus, kondisi tersebut dialami sapi yang dimiliki warga Dusun Singopranan, Desa Belor, Ngaringan. Diduga sapi-sapi itu berasal dari Blora yang dibeli warga Grobogan dengan harga murah.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan Riyanto menduga, sapi-sapi tersebut berasal dari Kabupaten Blora. Sebab, sapi-sapi di Kota Swike mayoritas telah divaksin, sehingga potensi kembali terserang PMK kecil.
”Kalau di Blora memang sedang menghadapi ledakan kasus PMK lagi. Karena angka vaksinasi PMK masih rendah," katanya.
Menurutnya, untuk vaksinasi di Blora baru mencapai 26 persen. Jadi, ada potensi sapi-sapi dari Kota Sate itu, sebagian mengalami sakit dan dijual ke luar daerah. Untuk itu, ia memperingatkan peternak agar tidak membeli sapi murah.
”Mungkin yang mati itu pembelian sapi murah dari Blora. Para peternak sudah diberi tahu agar tidak membeli sapi murah. Sebab, besar kemungkinan sapi-sapi itu sakit," terangnya.
Tiga sapi mati di Desa Belor itu, terjadi dalam tiga hari beruntun. Mulai Kamis (5/1), Jumat (6/1), dan Sabtu (7/1). Sapi-sapi itu mati mendadak.
Berdasarkan ciri-cirinya, diduga kuat karena terjangkit PMK. Sebab, sebelum mati sapi-sapi itu lebih dulu mengalami gejala yang mirip PMK. Yakni, kaki mengeluarkan bau tidak sedap dan tidak kuat berdiri serta mulutnya berlendir. (tos/lin) Editor : Abdul Rokhim