Ady Setiawan menyampaikan dalam memulai bisnis harus mengetahui informasi marketing bisnis terlebih dahulu. Yaitu mulai dari harga beli, harga jual dan pasarnya seperti apa. Selain itu, juga harus mengetahui harga dari kompetitor dan segmen pasar yang akan jadi market pasar.
”Jangan sampai buat produk tetapi tidak tahu produknya seperti apa. Maka harus tahu produk yang dijual seperti apa dan permasaranya. Sekarang sudah jamanya penjualan secara online maka pemasaran lebih efektif daripada door to door,” kata Ady Setiawan mantan Direktur PDAM Grobogan.
Penjualan dengan era digital ini, kata Ady Setiawan juga didukung oleh pemerintah yang sedang mendorong pemasaran produk dengan aplikasi plafon lokal. Sehingga produk yang dijual bisa standar dan harga tidak anjlok. Seperti produk pertanian di Grobogan juga bisa dipasarkan lewat plafon digital.
”Jika Pemkab fasilitasi itu maka bisa masuk plafon digital. Ketika informasi dikuasi maka dapat data. Maka dari data ini dapat menjalankan bisnis konsentrasi kayak apa,” ujarnya.
Dia menambahkan, dalam era digital ada sisi positif dan negatif. Dimana waktu dulu menawarkan produk door to door lewat warung ke warung. Namun, sekarang pemasaran bisa dilaksanakan lewat di online. Saat ini orang beli tidak harus datang ke tempat tetapi bisa diantar lewat kurir.
”Digital pengaruhi kemajuan dan teknologi. Tapi tradisi lokal yang harus tetap dijaga dengan silaturahmi yang harus tetap dijaga,” terang dia.
Ady menambahkan, sebagian besar pada industri pengolahan membutuhkan data sains informasi. Baik untuk preview, market, pasar, dibutuhkan pengolahan data. Harapannya sumber informasi pengolahan data tetap berbasis keaifan lokal.
”Artinya tradisi tradisi terbangun baik jangan sampai mendegradasi budaya dianggap orang tidak berbudaya. Digitalisasi oke. Tetapi kearifan budaya lokal tetap dijaga,” tandasnya.
Selain itu, pihakya berharap mahasiswa ITB-MG betul-betul menjadi interpreuner dan Tecnopreuner sejati. Sebab, mahasiswa tersebut sudah diberikan informasi data dan mampu menegakan nilai–nilai kearifan lokal. Apalagi di Grobogan penghasil kedelai terbesar dan memiliki tradisi religius yang tinggi.
Aris Supriyadi Wakil Rektor Satu ITB-MG mengatakan, sengaja meminta Ady Setiawan karena mempunyai kompetensi pengembangan keilmuwan dan bisnis. Apalagi sudah berpengalaman di dunia usaha dan menjadi direktur PDAM di empat wilayah berbeda.
”Kami memanggil tokoh bisnis berpengaruh ke ITB-MG satu bulan sekali untuk berikan semangat mahasiswa untuk terjun langsung ke bisnis. Harapanya mahasiswa sudah siap menjadi interpreuner dengan belajar dari pamateri,” pesannya. (mun) Editor : Ali Mustofa