Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Melihat Ragam Arsip Tionghoa Lasem: Ada Cerita Perdagangan, Batik, hingga Resep Pengobatan Tabib

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • 2024-07-08 18:10:05
SEJARAH: Peneliti Sejarah Tionghoa di Museum Nyah Lasem Agni Malagina menunjukkan Teks berbahasa Tionghoa di Museum Nyah Lasem, Rembang.
SEJARAH: Peneliti Sejarah Tionghoa di Museum Nyah Lasem Agni Malagina menunjukkan Teks berbahasa Tionghoa di Museum Nyah Lasem, Rembang.

Arsip-arsip warga Tionghoa Lasem masa lampau kini dikumpulkan di Museum Nyah Lasem, Rembang.

Berbagai potret aktivitas masyarakat awal 1900-an bisa ditemukan. Mulai perdagangan batik hingga resep obat-obatan ala tabib.

VACHRI RINALDY L, Lasem, Radar Kudus

PAMERAN arsip di Museum Nyah Lasem beberapa waktu lalu menarik perhatian pengunjung. Ada berbagai catatan-catatan perdagangan di Lasem.

Mulai batik hingga koran berbahasa Belanda.

Jika dirangkai, dokumen-dokumen lawas tersebut seakan bisa bercerita, bahwa jaringan perdagangan para saudagar batik begitu luas.

Tidak hanya di sekitaran Lasem, namun menyebar di Nusantara hingga belahan dunia lainnya.

Beberapa waktu lalu, para pengelola Museum Nyah Lasem dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Rembang mengusulkan arsip-arsip tersebut bisa menjadi Memori Kolektif Bangsa (MKB). 

Sekarang, usulan tersebut telah diterima. Dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menetapkannya sebagai MKB.

Di Museum Nyah Lasem memang konsen dalam mengumpulkan dokumen-dokumen lawas milik warga Tionghoa.

Di museum yang terletak di Desa Karangturi itu, juga terdapat ruang khusus yang menyimpan arsip-arsip.

Dokumen yang disimpan terlihat lawas sekali. Warna kertas menguning bahkan sudah tak utuh lagi.

Namun tulisan-tulisan Tionghoanya masih terlihat jelas.

Peneliti Sejarah Tionghoa di Museum Nyah Lasem Agni Malagina menyampaikan, keberadaan arsip-arsip lama itu menunjukkan bahwa jaringan dagang batik Lasem sudah tersebar ke Nusantara bahkan luar negeri.

Sehingga nilai-nilai ke-Indonesia-an ini bisa dijaga relevansi dan keragamannya pada saat ini maupun masa depan.

Selain arsip jaringan dagang batik, di sini juga ada arsip terkait dengan memori keluarga, kebudayaan, foto-foto, kartu pos, dan catatan-catatan.

Seperti pada surat-surat pembelian bahan-bahan untuk membuat batik.

Isinya beragam ada yang menggunakan bahasa Tionghoa, Melayu, dan Belanda.

"Mayoritas berbahasa Melayu Tionghoa dan bahasa Belanda," katanya.

Berdasarkan arsip tersebut, lanjut Agni, juga bisa diketahui tentang gambaran minat masyarakat terhadap Batik Lasem kala itu.

"Walaupun kami tidak mengetahui gambarnya (motif batik), tetapi bisa mengetahui warna-warna apa yang ngetren di tahun 1920-an," katanya.

Beberapa waktu lalu Museum Nyah Lasem juga mendapatkan sumbangan arsip yang berisi naskah obat-obatan.

Dokumen tersebut diduga milik warga Tionghoa Lasem yang menjadi tabib di Desa Karangturi pada awal 1900-an.

Sehingga orang tersebut memiliki khasanah pengobatan.

Termasuk resep-resep obat yang ditulis sendiri. ”Obat untuk anak-anak, perempuan,” katanya.

Untuk sementara, memang belum ada kajian lebih mendetail terkait arsip-arsip ini.

Agni baru membaca beberapa judul dan ringkasan.

"Belum ada peneliti khusus yang mengkaji buku-buku ini. Sementara kami baru merawatnya" katanya. (*/zen)

Editor : Ali Mustofa
#pengunjung #museum nyah lasem #batik #rembang #lasem #Dinarpus #Pameran Arsip