RADAR KUDUS - Nama Mitchell Lee Baker sekarang makin akrab di telinga pencinta sepak bola Indonesia. Striker muda ini bukan cuma datang sebagai pemain naturalisasi, tetapi langsung bikin gebrakan setelah dipercaya memperkuat Timnas Indonesia.
Usianya masih 19 tahun, tetapi insting gol Baker sudah bikin banyak orang melirik. Bahkan, dalam perjalanannya bersama Skuad Garuda, pemain kelahiran Melbourne, Australia, ini sudah menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pelapis.
Baker resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 13 Juli 2026. Hanya sekitar dua pekan setelah proses naturalisasi selesai, ia langsung mencuri perhatian dalam debutnya bersama Timnas Indonesia.
Pada laga perdana menghadapi Kamboja di Piala AFF 2026, Baker langsung mengamuk. Ia mencetak hattrick dan membantu Indonesia menang telak 5-1 di Stadion Pakansari, Bogor. Tiga gol itu menjadi awal yang super impresif untuk perjalanan internasionalnya bersama Garuda.
Bukan cuma sekali meledak. Pada 1 Oktober 2026, Baker kembali tampil menggila ketika Indonesia menghadapi Bangladesh dalam FIFA ASEAN Cup 2026. Ia mencetak lima gol dalam kemenangan besar Indonesia dengan skor 9-2. Gol-gol tersebut tercipta pada menit ke-11, 20, 37, 42, dan 90+7.
Jadi, siapa sebenarnya Mitchell Baker?
Mitchell Lee Baker lahir di Melbourne, Australia, pada 11 Desember 2006. Ia memiliki darah Indonesia dari keluarga sang ibu, Maureen Lee Baker.
Kakeknya, Han Koen Lie, lahir di Yogyakarta pada 19 Januari 1937. Sementara neneknya, Li Nio The Lie, lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 27 Mei 1940.
Sementara itu, ayah Baker, Daniel Robert Baker, merupakan warga negara Australia yang lahir di Geelong. Garis keturunan dari keluarga ibunya inilah yang menjadi salah satu dasar Baker bisa menjalani proses naturalisasi untuk membela Timnas Indonesia.
Dari sisi postur, Baker juga punya modal yang cukup komplet untuk seorang striker. Tingginya mencapai sekitar 196 sentimeter. Dengan badan jangkung tersebut, ia sangat berbahaya ketika berduel di udara.
Namun, jangan mengira Baker cuma mengandalkan tinggi badan. Permainannya juga ditunjang positioning yang bagus, kemampuan mencari ruang, serta ketenangan ketika mendapatkan peluang di depan gawang.
Itulah sebabnya Baker sempat mendapat julukan “Erling Haaland Indonesia” dari sejumlah pemberitaan. Perbandingan tersebut muncul karena posturnya yang tinggi, gaya bermain sebagai ujung tombak, dan kemampuannya mencetak gol.
Perjalanan sepak bola Baker sebenarnya sudah dimulai sejak usia muda. Ia sempat menimba pengalaman di Hong Kong Football Club ketika masih berusia sekitar 10 tahun.
Setelah itu, Baker melanjutkan perkembangan kariernya di Australia. Ia tercatat pernah bergabung dengan Northcote City dan Melbourne Victory.
Petualangannya kemudian berlanjut ke Amerika Serikat. Baker bergabung dengan Black Rock FC dan Northwood School. Di level tersebut, produktivitasnya mulai benar-benar terlihat.
Selama sekitar dua setengah tahun bersama Northwood School dan Black Rock FC, Baker disebut mampu mencetak 141 gol dari 121 pertandingan, plus 39 assist. Catatan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa naluri mencetak golnya memang sudah muncul sejak usia muda.
Pada 2024, Baker kemudian melanjutkan pendidikan sekaligus karier sepak bolanya di Georgetown University. Ia bermain untuk Georgetown Hoyas dalam kompetisi sepak bola perguruan tinggi Amerika Serikat.
Performa Baker di Georgetown juga tidak main-main. Pada musim 2025/2026, ia tampil dalam 21 pertandingan dan selalu menjadi starter. Dari penampilannya tersebut, ia mencetak 14 gol serta tiga assist.
Catatan itu membuat namanya semakin diperhitungkan di sepak bola Amerika Serikat. Baker bahkan masuk First Team All-BIG EAST dan First Team All-East Region versi United Soccer Coaches.
Kesempatan untuk naik ke level profesional pun datang.
Colorado Rapids, klub yang bermain di Major League Soccer (MLS), memilih Baker melalui MLS SuperDraft. Ia dipilih pada urutan ke-10 dan diproyeksikan bergabung dengan klub tersebut pada akhir 2026.
Menariknya, sebelum benar-benar menjalani karier profesionalnya di MLS, Baker justru lebih dulu mendapatkan panggung besar bersama Timnas Indonesia.
Dan debutnya bisa dibilang nggak kaleng-kaleng.
Saat menghadapi Kamboja, Baker langsung mencetak tiga gol. Dua di antaranya lahir lewat sundulan, memanfaatkan keunggulan posturnya. Ia juga menunjukkan ketenangan dalam menyelesaikan peluang serta kemampuan membaca posisi di kotak penalti.
Performa tersebut membuat debut Baker terasa seperti skenario film. Baru saja resmi menjadi WNI, langsung dipercaya tampil untuk Garuda, kemudian mencetak hattrick.
Baker sendiri mengaku sangat menikmati momen tersebut. Namun, ia tidak ingin terlalu lama larut dalam euforia. Setelah pertandingan, fokusnya langsung diarahkan ke laga berikutnya karena perjalanan Indonesia di turnamen masih panjang.
Dan benar saja, Baker kembali membuktikan ketajamannya.
Saat Indonesia menghadapi Bangladesh pada 1 Oktober 2026, striker berpostur 196 cm itu mencetak lima gol dalam kemenangan 9-2. Lima gol tersebut sekaligus ikut mengantar Indonesia mengamankan tiket ke final FIFA ASEAN Cup 2026.
Kalau melihat gaya bermainnya, Baker bisa menjadi opsi menarik untuk lini depan Indonesia. Ia punya kemampuan bermain sebagai target man, kuat dalam duel udara, dan memiliki naluri mencetak gol yang tinggi.
Posturnya membuatnya bisa menjadi sasaran umpan silang maupun bola panjang. Di sisi lain, pengalaman bermain di Amerika Serikat membuat Baker terbiasa dengan gaya permainan yang cukup kompetitif dan dinamis.
Yang juga menarik adalah usianya.
Baker masih sangat muda. Artinya, ruang untuk berkembang masih terbuka lebar. Jika mampu terus mendapatkan menit bermain, menjaga kebugaran, dan beradaptasi dengan sepak bola level internasional, bukan tidak mungkin Baker bakal menjadi salah satu striker penting Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Kehadirannya juga memberikan warna baru untuk lini depan Garuda. Indonesia sekarang memiliki alternatif penyerang dengan karakter berbeda: striker jangkung yang bisa menjadi target di dalam kotak penalti sekaligus punya insting gol yang cukup tajam.
Baker memang lahir dan besar di Australia. Namun, setelah memilih menjadi WNI, ia kini punya kesempatan untuk menulis cerita baru bersama Timnas Indonesia.
Dan sejauh ini, ceritanya benar-benar dimulai dengan cara yang spektakuler.
Debut hattrick, kemudian lima gol dalam satu pertandingan.
Kalau konsistensinya bisa dijaga, Mitchell Baker bukan cuma sekadar pemain naturalisasi baru. Ia berpotensi menjadi salah satu nama yang bakal sering dibicarakan ketika publik Indonesia membahas masa depan lini depan Skuad Garuda.
Editor : Mahendra Aditya