Mengenal M. Arief Zuliyan, Pemuda Asal Desa Banjaran Bangsri Jepara Jadi Dosen Muda HI Undip

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:34 WIB
BERKEMAJUAN: Cak Muh setelah mendapatkan ijazah Prodi Diplomasi di Central China Normal University, Wuhan, Tiongkok. (DOC. PRIBADI)
BERKEMAJUAN: Cak Muh setelah mendapatkan ijazah Prodi Diplomasi di Central China Normal University, Wuhan, Tiongkok. (DOC. PRIBADI)

Pemuda Desa yang Bermimpi menjadi Profesor 

Pendidikan bagi Cak Muh bukan sekadar soal gelar, tetapi jalan untuk mengubah kehidupan dan memperluas kesempatan. Berangkat dari keluarga sederhana di desa, ia sempat merasa kuliah sebagai sesuatu yang sulit dijangkau. 

Namun, tekad membuatnya terus belajar, menguasai bahasa Inggris dan Mandarin hingga berani menempuh pendidikan serta pengalaman di Tiongkok. Ia terlibat dalam diplomasi, penelitian, organisasi internasional, hingga menjadi praktisi pariwisata. Kini, capaian tersebut ingin terus dikembangkan dengan target menempuh S3 dan menjadi profesor, sekaligus membawa ilmu dan jejaring internasionalnya untuk berkontribusi bagi Jepara. 

FIKRI THOHARUDIN, Radar Kudus, Jepara 

PENDIDIKAN, hingga kini masih dimaknai sebagai upaya untuk merajut kecakapan hidup.

Muhammad Arief Zuliyan atau yang akrab disapa Cak Muh, pun turut mengamini apa yang dicetuskan oleh Paulo Freire tersebut.

Filosof sekaligus pemikir pendidikan paling berpengaruh di dunia pada abad ke-20 itu mendudukkan nilai, pendidikan, sebagai proses pembebasan dan usaha untuk memanusiakan kembali manusia.

Zaman modern merenggut banyak hal atas manusia. Hubungan-hubungan interpersonal maupun hubungan internasional antar negara pun juga tak terelakkan. 

Mimpi menjadi profesor mungkin terdengar tinggi bagi seorang anak desa. Namun, baginya, mimpi itu justru menjadi alasan untuk terus melangkah.

Dosen muda Hubungan Internasional Universitas Diponegoro (Undip) ini tumbuh dari keluarga sederhana di Dukuh Candi Sendangsari, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, Jepara. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Ayahnya lulusan SMK dan bekerja sebagai tukang kayu di industri rumahan. Sementara ibunya tidak menyelesaikan pendidikan dasar dan sehari-hari menjadi ibu rumah tangga.

PROGRESIF: Cak Muh sedang memberikan coaching clinic berkaitan studi lanjut para mahasiswa lulusan HI Undip.
PROGRESIF: Cak Muh sedang memberikan coaching clinic berkaitan studi lanjut para mahasiswa lulusan HI Undip.

Latar belakang keluarga itu membuat pendidikan tinggi sempat terasa jauh baginya.

“Saya orang desa. Awalnya saya takut kuliah karena tidak ada biaya,” ungkapnya, Minggu (6/9).

Namun, ketakutan itu tidak bertahan lama. Ia memilih menempuh pendidikan dengan niat dan tekad. Baginya, pendidikan tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan sulit dijangkau. Selama ada kemauan untuk belajar, jalan tetap bisa dicari.

“Kalau saya melihat, pendidikan bisa mengubah saya seperti ini,” katanya.

Ketertarikannya terhadap dunia internasional tumbuh sejak muda. Usai sedari SMA, Cak Muh bahkan pergi ke Pare, Kediri, Jawa Timur, pada 2010. Berbekal tekad bulat, memperdalam bahasa Inggris.

"Saya belajar dari nol prutul (dari awal, red)," kenangnya.

Selama sekitar 10 bulan, ia fokus belajar bahasa Inggris. Pengalaman itu kemudian menjadi bekal penting ketika kesempatan untuk mengenal dunia internasional terbuka.

Saat kuliah S1 Hubungan Internasional di UMY, ia mendapat informasi mengenai program kerja sama kampus dengan universitas di Tiongkok.

Ia mengikuti seleksi dan berhasil berangkat melalui program pertukaran pelajar pada 2014-2015.

Di Tiongkok, bukan hanya pengalaman akademik yang didapat. Ia mulai mengenal bahasa Mandarin sekaligus membangun jaringan dengan orang-orang dari berbagai negara.

Salah satu jaringan yang terbangun bahkan mempertemukannya dengan kenalan dari Amerika Serikat.

Relasi tersebut kelak ikut membuka informasi mengenai kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Cak Muh kemudian memantapkan pilihan untuk melanjutkan S2. Ia memperoleh informasi pendaftaran melalui sebuah situs yang dibagikan oleh kenalannya tersebut.

Pilihan jatuh pada studi diplomasi di Central China Normal University, Wuhan, Tiongkok. Ia menyelesaikan pendidikan magister hukum pada Program Studi Diplomasi pada 2018.

Perjalanan di Tiongkok juga tidak berhenti di bangku kuliah. Ia pernah menjadi asisten peneliti di Pusat Studi Indonesia-Tiongkok serta terlibat dalam berbagai kegiatan internasional. 

Pengalaman di bidang protokol dan konsuler di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing juga menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.

Sebelum benar-benar menapaki dunia akademik, Cak Muh sempat bekerja sebagai translator bahasa Mandarin. Ia juga pernah menjadi fasilitator di Kejora Karimunjawa.

Pengalaman itu membuat perjalanan kariernya tidak langsung lurus menuju ruang dosen. Ia justru melewati berbagai pekerjaan dan aktivitas yang mempertemukannya dengan banyak orang, lingkungan, serta persoalan.

Namun akhirnya, April 2022, pada usia yang ke-32 tahun, ia bergabung sebagai dosen Hubungan Internasional di Universitas Diponegoro.

BERDAYA: Cak Muh menghadiri International Symposium On The Bandung Spirit And China – Indonesia Community With a Shared Future 2025.
BERDAYA: Cak Muh menghadiri International Symposium On The Bandung Spirit And China – Indonesia Community With a Shared Future 2025.

Kini, dunia akademik menjadi ruang yang ingin terus ia tekuni.

Cak Muh menaruh perhatian pada kajian Chinese Studies dan maritim.

Ketertarikannya terhadap Tiongkok bukan sesuatu yang baru muncul ketika ia menjadi dosen.

Sejak lama, ia ingin memahami bagaimana hubungan Indonesia dan Tiongkok berkembang serta bagaimana hubungan kedua negara tersebut. 

Hampir lima tahun setelah menjadi dosen, ia menargetkan ke depan dapat menyelesaikan pendidikan doktoral. Ia berharap bisa kembali menempuh pendidikan di luar negeri. Menjadi peneliti, akademisi, hingga profesor.

Baginya, pendidikan bukan perjalanan yang berhenti setelah mendapatkan gelar.

“Pendidikan harus long life untuk belajar,” ujarnya.

Di balik ambisi akademiknya, ada satu hal yang tidak ingin ia tinggalkan, Jepara.

Sebagai pemuda yang tumbuh dari desa, Cak Muh ingin ilmu dan jaringan internasional yang dimilikinya suatu saat bisa memberi manfaat bagi daerah asalnya.

Ia membayangkan jejaring yang dibangun selama berada di luar negeri dapat menjadi jembatan bagi masyarakat Jepara dengan pihak-pihak dari luar negeri, termasuk Tiongkok.

“Saya ingin berkontribusi mengembangkan daerah di Jepara,” katanya.

Kontribusi itu ingin ia bangun dari sisi akademik. Ia berharap setiap kegiatan pengabdian kepada masyarakat maupun penelitian yang berkaitan dengan bidang kajiannya dapat diarahkan untuk memberi manfaat bagi Jepara.

Jepara, baginya, bukan sekadar tempat pulang. Daerah tempat ia tumbuh justru menjadi ruang yang ingin ia bantu kembangkan dengan ilmu, pengalaman, dan jaringan yang diperolehnya selama menempuh perjalanan pendidikan.

Dari rumah sederhana di Banjaran, ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Kini, setelah menempuh perjalanan dari desa di Jepara menuju ruang-ruang akademik dan diplomasi internasional, Cak Muh masih mengejar satu mimpi yang sama, menjadi profesor. Namun, mimpi itu tidak berhenti pada gelar.

“Saya bermimpi, bermimpi dengan mata terbuka lebar. Bermimpi dengan tekad kuat,” pungkasnya.(*)

Editor : Mahendra Aditya
dosen muda dosen HI Undip Chinese Studies anak kampung bermimpi jadi profesor Paulo Freire