'Anak kampung' menjadi satu identitas yang lekat dengan sosok Afriza Ni'matus Sa'adah. Perempuan kelahiran 31 Januari 2000 asal Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara ini justru tidak malu.
Justru ia membuktikan kemajuan suatu bangsa tidak dinilai dari dari mana ia dilahirkan. Tapi apa yang bisa disumbangkan, kepada negara dan peradaban modern.
Usai lulus dari prodi Teknik Kimia Undip pada 2022, lalu meraih Master of Energy Systems dari University of Melbourne 2025. Kini ia menjadi power system analyst di Institute for Essential Services Reform (IESR).
FIKRI THOHARUDIN, Jepara
PEREMPUAN adalah rahim peradaban. Kalimat ini menjadi bekal hidup Afriza Ni'matus Sa'adah, perempuan asal Desa Jinggotan, Kembang, Jepara.
Perempuan berusia 26 tahun ini amat keras pada diri sendiri, terutama dalam hal belajar. Sebab menurutnya, untuk dapat memberdayakan dan memajukan suatu bangsa, orang lebih dulu berdikari, harus merdeka dari kebodohan.
Meski lahir dan tumbuh di pelosok desa, namun semangat belajarnya seperti api yang dibakar dalam sekam. Tak pernah padam.
2022 lulus dari Teknik Kimia Undip tak lantas membuatnya puas. Ia kemudian melanjutkan rihlah akademik, masuk University of Melbourne pada 2024 dan meraih Master of Energy Systems di tahun 2025.
Sejak kecil, Afriza tumbuh dalam keluarga pendidik. Kedua orang tuanya, Sutikno dan Wahyuningsih, merupakan pengajar di sekolah swasta. Ibunya bahkan menjadi kepala sekolah di Yayasan Kiai Haji Abdul Latif.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini, terbiasa berada dalam lingkungan dengan iklim yang memandang pendidikan sebagai syarat mutlak hidup.
Berkaca lewat kesibukan orang tuanya, justru ia turut terpantik untuk dapat memberikan manfaat secara luas.
Kecintaannya dalam belajar semula mengarah pada cita-cita berprofesi dokter. Menurutnya, menjadi dokter berarti harus terus belajar sepanjang hidup.
"Saya suka pekerjaan yang membuat belajar setiap hari," tuturnya, pada Selasa (18/8).
Pada 2017, Afriza mendapat undangan masuk Farmasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui jalur undangan. Namun, cita-citanya menjadi dokter belum berhenti.
Pada 2018, ia kembali mencoba masuk Fakultas Kedokteran di sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jember, dan Universitas Diponegoro. Namun, semua upaya itu belum membawanya pada bangku kedokteran.
Jalan hidupnya lantas berbelok ke Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip).
Ia mulai kuliah 2018 dan menyelesaikan pendidikan S1 pada 2022. Di bangku inilah, ketertarikannya terhadap energi tumbuh sejak semester pertama.
Di Teknik Kimia, ia belajar merancang pabrik serta membuat treatment berbagai alat dan bahan. Tugas akhirnya berkaitan dengan perancangan pabrik Vinyl Chloride Monomer (VCM), bahan yang digunakan untuk menghasilkan Polivinil klorida (PVC).
Namun, ketertarikannya tidak berhenti pada bidang yang dipelajarinya di ruang kuliah.
Afriza bergabung sejumlah organisasi, termasuk Society of Petroleum Engineers. Ia juga terlibat dalam riset yang berkaitan dengan energi, termasuk plasma elektrolisis. Bahkan, ia pernah terlibat dalam kegiatan perakitan mobil berbahan kimia.
Dari sana, keinginannya untuk membangun karier di bidang energi menguat. Pekerjaan pertamanya sebagai konsultan di bidang pengolahan limbah.
Ia menangani persoalan daur ulang plastik. Terlibat dalam kerja sama dengan lembaga internasional seperti World Bank dan International Finance Corporation (IFC).
Pengalaman itu mempertemukannya dengan persoalan lingkungan, teknologi, industri, sekaligus kebutuhan akan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Ia semakin matang, usai tuntas menyelesaikan S2 di Melbourne, Australia. Terutama dalam bidang yang berkaitan dengan sistem energi.
Dari situ, ia mempelajari berbagai sistem energi terbarukan. Seperti tenaga surya, angin, air, panas bumi, biomassa maupun energi laut.
Ia mantap, mendalami teknologi untuk long-duration energy storage seperti baterai.
Pilihan ini turut menuntunnya dalam ke dalam ihwal besar, soal kedaulatan energi.
Saat ini, Afriza bekerja sebagai power system analyst di Institute for Essential Services Reform (IESR) di Tebet Jakarta Selatan, sejak September 2025.
Tugasnya menganalisis dan merancang proyek energi terbarukan. Salah satu wilayah yang banyak ia tangani yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di wilayah tersebut inilah, semua potensi energi terbarukan terbentang. Hanya butuh komitmen kuat untuk membangunnya.
NTT memiliki potensi energi surya, angin, panas bumi, hidro, dan biomassa. Berdasarkan studi yang dikerjakan timnya, potensi energi terbarukan di 22 kabupaten atau kota di NTT mencapai 253 gigawatt.
Karena itu, NTT menjadi salah satu wilayah yang dipilih untuk proyek energi terbarukan.
Pembangunan pembangkit, lanjutnya, harus disesuaikan dengan geografis dan potensi daerah. Komoditas lokal perlu diidentifikasi agar listrik yang dihasilkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, perjalanan menuju penggunaan energi terbarukan dalam skala besar tidak sederhana.
Indonesia memiliki target net zero emission (NZE) baru pada 2060. Di sisi lain, bauran listrik nasional 61 persen di antaranya masih didominasi batu bara. Sisanya berasal dari gas dan energi terbarukan, termasuk tenaga angin dan hidro.
Persentase energi terbarukan yang masih kecil tersebut membuat Afriza melihat adanya jarak antara besarnya target dan realisasi di lapangan.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, tetapi implementasinya masih minim.
Salah satu persoalan yang ia soroti ialah kebijakan harga batu bara untuk pembangkit listrik.
Dengan adanya kebijakan yang menjaga harga batu bara pembangkit tetap rendah, energi terbarukan menghadapi tantangan untuk bersaing pada tahap awal.
Menurut Afriza, kebijakan tersebut perlu dievaluasi agar energi terbarukan memiliki ruang untuk berkembang.
Di tempatnya bekerja, ia turut mendorong kebijakan yang mendukung penghapusan kebijakan harga batu bara pembangkit agar energi terbarukan dapat lebih kompetitif. Di samping persoalan lainnya yakni investasi.
Besarnya potensi energi terbarukan Indonesia tidak cukup jika tidak dibarengi investasi, aktor, dan sistem yang mampu membawa berbagai kajian menuju implementasi.
"Potensi EBT sangat besar, tapi minim implementasi. Belum ada investasi, aktor dan sistem yang baik," ucapnya.
Ia menyebut riset-riset yang dilakukan lembaga penelitian, termasuk BRIN, masih menemui tantangan. Karena itu, Afriza kini tidak hanya mengejar riset, namun ingin berada lebih dekat dengan langkah nyata.
Ia memiliki cita-cita membangun perusahaan konsultan sendiri. Perusahaan tersebut nantinya diharapkan mampu menarik pendanaan dari luar negeri untuk pembangunan energi terbarukan di Indonesia.
Dalam pertimbangannya, pembangunan energi terbarukan tidak bisa hanya mengandalkan APBN. Keinginan inilah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang yang sedang ia bangun.
Selain bekerja sebagai power system analyst, Afriza juga mendirikan Society of Research and Innovation Community (SRIC).
Organisasi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menulis riset, melakukan publikasi, serta mengemas hasil penelitian sebagai sebuah produk.
Tak ayal, ia juga pernah menjadi mahasiswa berprestasi tingkat nasional.
Tak hanya itu, ada sisi lain dari Afriza yang tidak banyak terlihat ketika ia berbicara tentang energi. Ia adalah seorang penulis.
Pada 2021, ia menerbitkan tiga buku puisi. Menulis menjadi salah satu caranya mengekspresikan pikiran sekaligus melepaskan tekanan. Selain menulis, ia juga memiliki hobi bermain biola.
Dua kegiatan itu menjadi ruang yang berbeda dari kesibukannya berkutat dengan sistem proyek, energi, data, riset, dan formulasi.
Di balik perjalanan akademik dan profesionalnya, Afriza tidak melupakan akar tempat ia tumbuh.
Sekalipun ia berasal dari keluarga yang sederhana di Desa Jinggotan. Kedua orang tuanya merupakan pendidik. Dari merekalah ia mewarisi, dengan kemauan keras dan tanggung jawab, ‘wong tekun bakal tekan.’
"Cara bertindak dan pola pikir saya sangat tercermin dari orang tua," ujarnya sumringah.
Pendidikan dari keluarga itu pula yang membuatnya berpandangan, jika perempuan harus memiliki kemampuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Menurut Afriza, perempuan harus memiliki karier yang baik, berani memperjuangkan apa yang diyakini, mampu mengambil keputusan, dan memiliki posisi yang setara.
"Perempuan harus punya karier yang bagus, fighting, decision making sendiri. Equal, setara dengan laki-laki," ujarnya.
Dalam perjalanan kariernya, Afriza juga memiliki sosok yang menginspirasinya. Salah satunya Nicke Widyawati, mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) yang menjabat sejak 2018 hingga 2024.
Dari sosok tersebut, Afriza melihat bagaimana perempuan dapat mengambil posisi penting dalam sektor energi yang selama ini jamak diisi laki-laki.
Energi menjadi wadah ia menemukan kembali apa yang sejak kecil ia cari, tak lain tak bukan, pekerjaan yang membuatnya terus belajar.
Ia ingin keterampilan yang dimilikinya dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Tak henti-hentinya Afriza memperjuangkan energi terbarukan di Indonesia. Bukan hanya melalui tulisan dan riset, tetapi melalui proyek yang benar-benar dibangun dan digunakan.
Dari Desa Jinggotan, perempuan cerdas dan cantik ini, menatap persoalan energi Indonesia dalam ruang yang jauh lebih luas, di kancah global.
Bukan sekadar bagaimana listrik dihasilkan, tapi energi yang sehat, terbarukan, berkelanjutan. Menjadi penopang kebutuhan energi dan penggerak perekonomian masyarakat.
“Sebagai perempuan seyogianya juga dapat berdaya dan memberdayakan,” pungkasnya menitipkan pesan.(*)
Editor : Ali Mustofa